Author: Annisa Aprilia Lestari

  • Kenalan dengan Mindful Eating: Kelola Emosi, Food Waste Teratasi!

    Kenalan dengan Mindful Eating: Kelola Emosi, Food Waste Teratasi!

    Makanan yang Tersisa di Piring. sumber: econusa.id
    Makanan yang Tersisa di Piring. sumber: econusa.id

    Tak lagi jadi pemandangan langka, makanan yang tersisa di piring kini menjadi fenomena yang dianggap sepele oleh sebagian orang. Terkadang, porsi makanan yang mereka sisakan juga tak sedikit. Bagi pelaku pengelola makanan, keberadaan sisa makanan dapat diolah menjadi produk menguntungkan, salah satunya yaitu kompos. Namun, apalah daya, sebagian pelaku pengelola makanan mungkin merasa bahwa pengelolaan sisa makanan memakan biaya dan waktu berlebih sehingga akhirnya berujung pada timbulnya food waste.

    Mengapa hal ini dapat terjadi? Berbagai penyebab fenomena menyisakan makanan antara lain, mulai dari porsi makanan yang terlalu banyak, makan terburu-buru, cita rasa yang tak sesuai harapan, rendahnya keinginan untuk mengonsumsi kembali, dan kualitas makanan yang menurun. Tak hanya itu, status ekonomi juga menjadi pertanda akan fenomena ini. Menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, makin tinggi nilai PDRB per kapita suatu wilayah alias makin kaya penduduk daerah tersebut, volume sampah makanannya juga kian tinggi.

    Mengatasi Mindless Eating dengan Mindful Eating

    Menerapkan Kebiasaan Baik Melalui Mindful Eating. Sumber: balance-life.gr 
    Menerapkan Kebiasaan Baik Melalui Mindful Eating. Sumber: balance-life.gr 

    Atas penyebab yang terjadi dari fenomena menyisakan makanan, ternyata kondisi ini dapat disebut sebagai mindless eating, yaitu perilaku makan yang tanpa memberikan perhatian penuh pada proses makan itu sendiri. Perilaku ini dapat berujung pada kebiasaan buruk. Alih-alih menghabiskan makanan, seseorang yang sering melakukan mindless eating akan terkesan tidak peduli dengan porsi dan rasa makanan yang dikonsumsi, akibatnya makanan berubah menjadi food waste dikarenakan porsi makanan yang tak sesuai kebutuhan. Dampak terhadap kesehatan juga menyertai perilaku ini, seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dll. Jika mindless eating menjadi cara untuk koping dengan stres, metode kopingnya harus diganti dengan cara yang lebih baik yaitu mindful eating.

    Menurut Maharani dan Khomsan (2024), mindful eating merupakan kondisi pada individu yang mengalami kesadaran penuh pada saat mengonsumsi makanan, kesadaran untuk tidak menghakimi makanan (nonjudgmental awareness), dan merasakan dengan penuh sensasi fisik, emosional, serta lingkungan yang berhubungan dengan makanan. Dengan mindful eating, kita diajak untuk lebih menikmati setiap gigitan, mengamati rasa, tekstur, dan aroma makanan, serta mengenali sinyal tubuh kita tentang rasa lapar dan kenyang. Langkah sederhana untuk menerapkan mindful eating dapat dilakukan dengan 3R.

    1. Recognize (Kenali)

    Langkah ini dapat dilakukan untuk mengenali sinyal alami tubuh dengan memastikan apakah tubuh benar-benar lapar secara fisik (perut keroncongan, lemas) atau hanya ‘lapar mata’? Selain itu, memberi waktu untuk mengenali makanan dari segi warna, fisik, bau dan berusaha mengelola emosi sehingga kita bisa lebih menghargai makanan yang akan kita konsumsi.

    1. Relate (Hubungkan)

    Membangun hubungan yang sehat dengan makanan yang kita konsumsi, dalam artian bersikap fokus dan sadar saat mengonsumsi makanan. Proses ini akan lebih baik jika kita menghindari diri dari distraksi seperti ponsel dan televisi sehingga kita bisa merasakan setiap gigitan, tekstur, dan rasa makanan dengan seksama. 

    1. Respond (Tanggapi)

    Setiap individu dapat menanggapi secara bijak setiap proses dari makan itu sendiri. Secara tidak langsung kita juga akan lebih bersyukur atas makanan yang telah dinikmati. Alhasil, pengelolaan emosi kita terhadap keberadaan dan konsumsi makanan akan tumbuh lebih optimal.

    Mindful Eating Sebagai Solusi Cerdas Atasi Food Waste

    Berbagi Bites Jogja Ajak Mahasiswa untuk Mengurangi Food Waste
    Berbagi Bites Jogja Ajak Mahasiswa untuk Mengurangi Food Waste

    Keberadaan fenomena mindless eating dapat menjadi bumerang yang memperburuk keadaan food waste di Indonesia. Namun, dengan menerapkan kesadaran penuh atas konsumsi makanan secara tidak langsung dapat menumbuhkan tanggung jawab atas pengelolaan makanan tersebut. Perilaku ini juga dapat meningkatkan kesadaran diri bahwa food waste dapat muncul dari kebiasaan makan kita sehari-hari. Sejuta dampak baik dapat tercipta bagi penekanan food waste apabila setiap individu berusaha untuk membiasakan perilaku mindful eating, salah satunya dengan mengurangi keinginan makan berlebih.

    Mindful eating mendorong individu untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan dalam jangka panjang dan secara sadar memilih atau mengambil makanan sesuai kebutuhan. Perilaku ini juga menjadi langkah nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan menghargai kerja keras para produsen pangan, sehingga dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk mengonsumsi makanan dengan bijak.

    Penulis: Annisa Aprilia Lestari  

    Referensi

    Ciputra Hospital. (2025). Manfaat Mindful Eating dan Cara Melakukannya. Diakses pada 07 Agustus 2025 dari https://ciputrahospital.com/mindful-eating/

    Ghifari, F. Y. (2023). Mindless Eating-Makan Tanpa Berpikir? Diakses pada 07 Agustus dari https://www.sirka.health/blog/2023/05/11/mindless-eating-makan-tanpa-berpikir/ 

    Maharani, T., & Khomsan, A. (2024). Hubungan Mindful Eating dan Tingkat Stres dengan Status Gizi pada Siswa SMA Global Persada Mandiri School. J. Gizi Dietetik, 3(3), 199-208. https://doi.org/10.25182/jigd.2024.3.3.199-208

    Rosalina, M. P., Wisanggeni, S. P., dan Albertus, K. (2022). Kebiasaan Buruk Sisakan Makanan. Diakses pada 07 Agustus 2025 dari https://www.kompas.id/artikel/kebiasaan-buruk-sisakan-makanan 

    Sigar, B. R., Tulis, D. H., Wijaya, Y. N., Pangauw, K. A. I., & Ramadhani , N. F. (2025). Analisis Hubungan Indeks Pembangunan Manusia, Jumlah Penduduk, dan Perekonomian Terhadap Timbunan Sampah di Sulawesi Utara. CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan, 5(3), 877-886. https://doi.org/10.51878/cendekia.v5i3.6174 

  • Langkah Kecil Menjadi Harapan, Kolaborasi BBJ dengan Food Bank Lumbung Mataraman untuk Yogyakarta

    Langkah Kecil Menjadi Harapan, Kolaborasi BBJ dengan Food Bank Lumbung Mataraman untuk Yogyakarta

    BBJ menandatangani nota kerja sama Program Food Bank Lumbung Mataraman
    BBJ menandatangani nota kerja sama Program Food Bank Lumbung Mataraman

    Pada Rabu, 21 Mei 2025, BBJ (Berbagi Bites Jogja) resmi menjadi mitra program Food Bank Pemerintah Kota Yogyakarta dengan menandatangani nota kesepakatan pada acara “Launching Food Bank dan Peresmian Sekretariat Bersama”. BBJ juga menerima surplus foods dari Hotel Tara sebagai bentuk komitmen hotel dalam mendukung program Food Bank Lumbung Mataraman. Aksi ini sekaligus menjadi simbolisasi realisasi program Food Bank Lumbung Mataraman dalam upaya mengurangi limbah produksi makanan yang berlebihan. Adapun sasaran penerima manfaat dari program Food Bank Lumbung Mataraman Pemerintah Kota Yogyakarta adalah warga lanjut usia (lansia) prasejahtera, keluarga prasejahtera, dan masyarakat kota Yogyakarta yang membutuhkan.

    BBJ menerima surplus makanan pertama dari Hotel Tara Yogyakarta sebagai bentuk simbolis atas dukungan kerja sama antara hotel, perguruan tinggi, dan Pemerintah Kota Yogyakarta
    BBJ menerima surplus makanan pertama dari Hotel Tara Yogyakarta sebagai bentuk simbolis atas dukungan kerja sama antara hotel, perguruan tinggi, dan Pemerintah Kota Yogyakarta

    Selama bulan Mei, Berbagi Bites Jogja telah melaksanakan pendistribusian surplus foods dari para mitra, yaitu Holland Bakery, Mustika Yogyakarta Resort & Spa, Artotel Jakal, Roti Flamboyan 47, perusahaan frozen food Boyolali, dan Loving Hut Express. Selain itu, BBJ berhasil mendistribusikan surplus foods yang diperoleh dari acara pernikahan masyarakat umum. Surplus foods tersebut didistribusikan kepada mahasiswa dan beberapa yayasan, di antaranya Yayasan Hamba, Yayasan Madania, Rumah Yoel, dan Yayasan Sayap Ibu.

    Surplus Foods  dari Artotel Jakal Yogyakarta yang Didistribusikan kepada Mahasiswa
    Surplus Foods dari Artotel Jakal Yogyakarta yang Didistribusikan kepada Mahasiswa

    BBJ memiliki dua jenis program, yaitu Food Rescue dan Food Bank. Kedua program tersebut direalisasikan melalui kegiatan penyelamatan makanan dari mitra pada sektor perhotelan dan consumer non-cyclicals yang didistribusikan kepada masyarakat, baik secara langsung maupun melalui kegiatan Open Kitchen. Selama bulan Mei 2025, mitra-mitra BBJ telah aktif berkontribusi dalam program ini.

    • Holland Bakery memberikan total 11 kg surplus foods dari tanggal 2 dan 8 Mei 2025.
    • Mustika Yogyakarta Resort & Spa memberikan total 32,25 kg surplus foods pada 4 Mei 2025
    • Artotel memberikan total 26 kg surplus foods dari tanggal 4,11, dan 18 Mei 2025
    • Roti Flamboyan 47 memberikan total 6 kg surplus foods pada tanggal 9 Mei 2025
    • Loving Hut Express memberikan total 17 kg surplus foods dari tanggal 11, 12, dan 21 Mei 2025
    • Masyarakat umum, melalui acara pernikahannya, memberikan total 38 kg surplus foods pada tanggal 19 Mei 2025.  
    • Perusahaan frozen food Boyolali, melalui kegiatan Open Kitchen BBJ, berhasil menyalurkan sejumlah 26 kg surplus foods dari tanggal 3, 11, 17, 18, dan 19 Mei 2025

    Melalui kegiatan yang dilaksanakan, BBJ memberikan aksi nyata  dalam mengurangi limbah makanan dan membantu masyarakat yang membutuhan. Langkah kecil BBJ dalam membantu pengelolaan makanan secara bijak diharapkan dapat membantu memberikan dampak dan inspirasi bagi dunia.

    Penulis : Ginanita Zelda dan Annisa Aprilia Lestari

  • Bukan Sekadar Memasak: Lawan Food Waste Bersama BRSPA Melalui Open Kitchen

    Bukan Sekadar Memasak: Lawan Food Waste Bersama BRSPA Melalui Open Kitchen

    Bentuk Simbolis Berupa Serah Terima Makanan dalam Pelaksanaan Open Kitchen di BRSPA, Gunung Kidul, Yogyakarta
    Bentuk Simbolis Berupa Serah Terima Makanan dalam Pelaksanaan Open Kitchen di BRSPA, Gunung Kidul, Yogyakarta

    Kilas balik aksi Berbagi Bites Jogja (BBJ) dalam kegiatan Open Kitchen di Balai Rehabilitasi Sosial dan Pengasuhan Anak (BRSPA), Gunung Kidul, Yogyakarta, pada Minggu, 19 Januari 2025. Dalam kegiatan ini, BBJ mengolah food surplus dari perusahaan frozen food Boyolali berupa daging ayam sejumlah 1,8 kg. Tawa lepas terekam oleh anak-anak dan para remaja di BRSPA melalui aksi memasak bersama teman-teman volunteers BBJ. Selain kegiatan Open Kitchen, terdapat juga sosialisasi yang dibawakan oleh Ibu Ika Kurniati selaku founder BBJ mengenai pentingnya meminimalisasi sisa makanan atau food waste.

    Mengulik Arti Penting dari Kegiatan Open Kitchen

    Dalam sosialisasi yang dibawakan, teman-teman BRSPA diperkenalkan dengan Open Kitchen, yaitu kegiatan memasak bersama dengan memanfaatkan food surplus dari pendonor. Kreativitas dan kebahagiaan terukir dalam kegiatan kali ini. Lalu, mengapa harus menggunakan food surplus? Sesuai dengan misi utama BBJ, menjembatani antara pendonor dan kontributor untuk menciptakan dampak positif dan berkelanjutan dalam bidang lingkungan dan kemanusiaan. Kontributor yang dimaksud adalah food heroes atau penyelamat makanan dan siapa pun dapat berperan sebagai food heroes

    Pelaksanaan Kegiatan Open Kitchen Bersama Teman-Teman di BRSPA
    Pelaksanaan Kegiatan Open Kitchen Bersama Teman-Teman di BRSPA

    Menciptakan Lingkungan yang Berkelanjutan dengan Menekan Jumlah Food Waste

    Keberadaan food waste menjadi ‘ancaman besar’ yang tak bisa diabaikan. Menurut laporan indeks dari United Nations Environment Programme, pada tahun 2024 Indonesia menghasilkan food waste mencapai 14,73 juta ton per tahun. Angka ini menjadi potret ancaman nyata dan tidak ada alasan bagi kita semua untuk abai terhadap kondisi ini. Kelaparan, kerusakan lingkungan, bencana alam, bahkan kematian dapat ‘menghantui’ kehidupan masyarakat apabila tidak segera diatasi.

    Penyaluran dan pengolahan food surplus menjadi salah satu langkah dalam menekan jumlah food waste. Kontribusi yang dilakukan oleh teman-teman BRSPA dan BBJ dalam open kitchen dapat memberikan dampak yang sangat besar bagi keberlangsungan lingkungan dan sosial. 

    Pengolahan Food Surplus dari Perusahaan Frozen Food Boyolali
    Pengolahan Food Surplus dari Perusahaan Frozen Food Boyolali

    Perlunya Kesadaran Diri dalam Mencegah Keberadaan Food Waste

    “Habiskan Makananmu!”, ujar Ibu Ika dalam kegiatan sosialisasi tak hanya sekadar menghabiskan makanan, tetapi juga memahami makna penting bahwa seiring waktu berjalan, makanan yang tersisa di piring dapat menumpuk dan mencemari lingkungan. Selain menghabiskan makanan, teman-teman dapat menerapkan beberapa aksi, seperti memilih makanan sesuai kebutuhan, membeli makanan secukupnya, menyimpan makanan dengan baik dan benar, mendonasikan makanan berlebih kepada yang membutuhkan, dan mengubah limbah makanan menjadi kompos. Mungkin solusi ini terkesan sepele, tetapi jika seluruh masyarakat menerapkannya, perlahan-lahan permasalahan terkait food waste dapat kita atasi bersama.

    Kegiatan BBJ seperti Open Kitchen membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan sesama bisa dimulai dari dapur. Dengan kolaborasi, edukasi, dan aksi nyata, kita semua dapat menjadi food heroes yang tidak hanya menyelamatkan makanan, tetapi juga masa depan.

    Penulis: Annisa Aprilia Lestari

    Referensi:

    United Nations Environment Programme. (2024). Food Waste Index Report 2024. Diakses pada 14 Juni 2025 dari https://www.unep.org/resources/publication/food-waste-index-report-2024