Author: Ginanita Zelda

  • Food Waste Juga Persoalan Moral, Kok bisa? 

    Food Waste Juga Persoalan Moral, Kok bisa? 

    Food waste atau makanan terbuang merupakan salah satu permasalahan global terutama dalam bidang pangan dunia. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), sekitar sepertiga makanan yang telah diproduksi di dunia hilang atau terbuang setiap tahunnya. 

    Jumlah ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat mengenai food waste masih begitu kurang. Padahal jumlah yang besar ini cukup untuk memberi makan miliaran orang kelaparan. Peristiwa ini memperlihatkan paradoks yang besar: di satu sisi terdapat surplus pangan yang berakhir menjadi sampah, sementara di sisi lain masih banyak masyarakat yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar nutrisinya. . 

    Persoalan ini tidak hanya menimbulkan persoalan teknis dalam distribusi pangan, tetapi juga persoalan etis dan ekologis yang mendalam

    Etika Lingkungan membantu memperluas pemahaman kita mengenai food waste. Dari perspektif antroposentris, membuang makanan berarti mengabaikan kebutuhan manusia yang kelaparan. Sedangkan, dari sudut pandang ekosentris, membuang makanan juga berarti mengabaikan nilai intrinsik alam dan makhluk hidup lain yang menjadi bagian dari produksi pangan.

    Hans Jonas, beranggapan bahwa manusia memiliki kewajiban moral untuk menjaga agar tindakannya tidak merusak keberlangsungan hidup generasi mendatang. Membuang makanan, dengan implikasi yang disebabkan bertentangan dengan tanggung jawab tersebut. 

    Permasalahan mengenai food waste menjadi salah satu problematika yang masuk ke dalam program SDGs (Sustainable Development Goals) atau Tujuan Berkelanjutan yang menjadi agenda penting PBB. Upaya pengurangan food waste diharapkan mampu untuk mengurangi dampak buruk seperti emisi rumah kaca dan produksi metana yang dihasilkan dari pembusukan pembuangan sampah. 

    Produksi makanan menyumbang antara 19-33% emisi global dan sekitar 70% penggunaan air tawar untuk pertanian. Maka, ketika makanan dibuang, tidak hanya nutrisi yang hilang, tetapi juga seluruh sumber daya, semacam air, tanah, energi dan tenaga kerja ikut terbuang sia-sia. Dalam perspektif Etika Lingkungan hal ini adalah bentuk kegagalan moral dalam mengelola sampah. 

    Bagaimana bisa masalah food waste menjadi masalah etika yang bersangkutan dengan moral?

    Dalam Barnhill & Civita disebutkan bahwa, (1) food waste mempercepat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim yang mampu membahayakan generasi kini dan mendatang. (2) meningkatkan beban etis dari produksi pangan karena setiap makanan yang dibuang menyumbang dampak buruk seperti kerusakan lahan, erosi tanah, polusi air, dan hilangnya keanekaragaman hayati. (3) Membuang makanan juga berarti telah menghilangkan kesempatan untuk memberi makan orang yang membutuhkan, sehingga hal ini menyoroti isu keadilan sosial.

    Dengan demikian, membuang makanan bukanlah tindakan yang netral, melainkan sebuah keputusan moral yang berdampak besar bagi lingkungan dan sesama manusia.

    Penulis: Ginanita Zelda 

    Referensi

    Barnhill, A., & Civita, N. (2020). Food Waste: Ethical Imperatives & Complexities. Physiology & Behavior, 223, 112927. https://doi.org/10.1016/j.physbeh.2020.112927
    1-s2.0-S0031938420302419-main

    FAO. (2011). Global Food Losses and Food Waste – Extent, Causes and Prevention. Rome: FAO.

    FAO. (2019). The State of Food and Agriculture: Moving Forward on Food Loss and Waste Reduction. Rome: FAO.

  • Mengubah Limbah Makanan Menjadi Solusi Tenaga Terbarukan

    Mengubah Limbah Makanan Menjadi Solusi Tenaga Terbarukan

    Limbah makanan. Sumber: Stateline.org
    Limbah makanan. Sumber: Stateline.org

    Indonesia menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan limbah makanan. Sebagai produsen limbah makanan terbesar di dunia, Indonesia membuang sekitar 23 – 48 juta ton makanan setiap tahunnya. Hal ini tidak hanya menyangkut masalah pemborosan, tetapi juga memberikan dampak serius bagi lingkungan. Limbah makanan yang membusuk menghasilkan gas metana (CH4), sebuah gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida (CO2). Namun, di balik masalah ini, limbah makanan dapat dimanfaatkan menjadi salah satu energi terbarukan melalui teknologi yang disebut pencernaan anaerobik. Pencernaan anaerobik adalah sebuah terobosan yang menggunakan mikroorganisme untuk mengurai bahan organik dalam kondisi bebas oksigen, menghasilkan biogas dengan kandungan metana yang tinggi. Biogas ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik, pemanas, maupun bahan bakar transportasi.

    Menurut Paritosh dkk. (2017), dibandingkan dengan limbah pertanian dan kotoran hewan, limbah makanan memiliki kandungan energi yang lebih tinggi, menjadikannya ideal untuk produksi biogas. Komposisi limbah makanan yang kaya akan karbohidrat, protein, dan lemak mempercepat proses fermentasi mikroba serta menghasilkan volume metana yang signifikan. Selain potensi teknis yang tinggi, kita juga perlu menggeser paradigma dalam melihat limbah makanan. Caterina Trevisan, dkk. (2025) secara provokatif mempertanyakan, “Is wasted food just waste?”. Menurut mereka, kita perlu beralih dari melihat limbah makanan sekadar sebagai sisa atau kegagalan sistem, menjadi potensi nilai yang bisa diubah. Mereka menyebutnya pendekatan “value transformation lens”, yaitu cara pandang yang melihat makanan terbuang sebagai titik awal untuk inovasi, bukan akhir dari proses distribusi. Artinya, alih-alih hanya fokus pada menghindari atau mengurangi limbah, kita juga bisa berpikir: bagaimana sisa makanan dapat berperan dalam sistem pangan baru? Limbah makanan berpotensi menjadi bahan baku energi, bahan kosmetik, kompos, makanan ternak, bahkan menciptakan bisnis sosial baru. Transformasi ini menuntut pergeseran dalam operasi logistik dan manajemen rantai pasok, dengan menempatkan nilai sosial dan ekologi sejajar dengan nilai ekonomi.

    Menggabungkan dua pendekatan ini—teknologi dan paradigma—membuka kemungkinan baru yang revolusioner. Bayangkan sebuah kota yang bukan hanya memiliki instalasi biodigester canggih, tetapi juga masyarakat yang sejak awal tidak menganggap sisa makanan sebagai “buangan”, melainkan sebagai sumber daya. Di kota seperti itu, restoran tidak sekadar membuang makanan lebih sedikit, tetapi juga membangun sistem pasokan ulang, ketika sisa makanan dialirkan ke instalasi energi atau bank makanan komunitas. Untuk mencapai visi ini, tentu dibutuhkan dukungan kebijakan, insentif ekonomi, dan yang paling penting: perubahan budaya konsumsi. Teknologi pengolah limbah hanya akan efektif jika diiringi dengan kesadaran sosial dan struktur sistem yang memungkinkan transformasi nilai itu terjadi. Namun, pemanfaatan limbah makanan untuk energi masih menghadapi sejumlah hambatan. Di antaranya adalah keterbatasan infrastruktur dan teknologi, kurangnya kesadaran masyarakat, serta belum optimalnya dukungan kebijakan publik. Padahal, pendekatan ini memiliki banyak manfaat, seperti mengurangi emisi gas rumah kaca, memperpanjang usia TPA, menyediakan sumber energi bersih, serta menciptakan lapangan kerja baru di sektor hijau.

    Oleh karena itu, solusi ini perlu didorong melalui kebijakan lintas sektor, edukasi publik, dan integrasi dalam program lingkungan hidup di tingkat lokal maupun nasional. Pengembangan teknologi pencernaan anaerobik yang mudah diakses dan diterapkan secara komunitas dapat menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran bahwa limbah makanan bukan sekadar sampah, melainkan sumber daya berharga. Dengan kombinasi antara inovasi teknologi, edukasi masyarakat, dan dukungan kebijakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin dalam transisi energi hijau berbasis limbah organik. Jika kita mampu mengubah cara pandang terhadap sisa makanan, dari beban menjadi berkah, maka masa depan energi terbarukan akan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Penulis: Ginanita Zelda 

    Referensi 

    Paritosh, K., Kushwaha, S. K., Yadav, M., Pareek, N., Chawade, A., & Vivekanand, V. (2017). Food Waste to Energy: An Overview of Sustainable Approaches for Food Waste Management and Nutrient Recycling. BioMed Research International, 2017, 1–19. https://doi.org/10.1155/2017/2370927

    Trevisan, C., Formentini, M., & Pullman, M. (2025). Innovators and transformers: Is wasted food just waste? Reconceptualising food loss and waste in operations and supply chain management research and practice. International Journal of Physical Distribution & Logistics Management, 55(4), 361–375. https://doi.org/10.1108/IJPDLM-12-2023-0471

  • Langkah Kecil Menjadi Harapan, Kolaborasi BBJ dengan Food Bank Lumbung Mataraman untuk Yogyakarta

    Langkah Kecil Menjadi Harapan, Kolaborasi BBJ dengan Food Bank Lumbung Mataraman untuk Yogyakarta

    BBJ menandatangani nota kerja sama Program Food Bank Lumbung Mataraman
    BBJ menandatangani nota kerja sama Program Food Bank Lumbung Mataraman

    Pada Rabu, 21 Mei 2025, BBJ (Berbagi Bites Jogja) resmi menjadi mitra program Food Bank Pemerintah Kota Yogyakarta dengan menandatangani nota kesepakatan pada acara “Launching Food Bank dan Peresmian Sekretariat Bersama”. BBJ juga menerima surplus foods dari Hotel Tara sebagai bentuk komitmen hotel dalam mendukung program Food Bank Lumbung Mataraman. Aksi ini sekaligus menjadi simbolisasi realisasi program Food Bank Lumbung Mataraman dalam upaya mengurangi limbah produksi makanan yang berlebihan. Adapun sasaran penerima manfaat dari program Food Bank Lumbung Mataraman Pemerintah Kota Yogyakarta adalah warga lanjut usia (lansia) prasejahtera, keluarga prasejahtera, dan masyarakat kota Yogyakarta yang membutuhkan.

    BBJ menerima surplus makanan pertama dari Hotel Tara Yogyakarta sebagai bentuk simbolis atas dukungan kerja sama antara hotel, perguruan tinggi, dan Pemerintah Kota Yogyakarta
    BBJ menerima surplus makanan pertama dari Hotel Tara Yogyakarta sebagai bentuk simbolis atas dukungan kerja sama antara hotel, perguruan tinggi, dan Pemerintah Kota Yogyakarta

    Selama bulan Mei, Berbagi Bites Jogja telah melaksanakan pendistribusian surplus foods dari para mitra, yaitu Holland Bakery, Mustika Yogyakarta Resort & Spa, Artotel Jakal, Roti Flamboyan 47, perusahaan frozen food Boyolali, dan Loving Hut Express. Selain itu, BBJ berhasil mendistribusikan surplus foods yang diperoleh dari acara pernikahan masyarakat umum. Surplus foods tersebut didistribusikan kepada mahasiswa dan beberapa yayasan, di antaranya Yayasan Hamba, Yayasan Madania, Rumah Yoel, dan Yayasan Sayap Ibu.

    Surplus Foods  dari Artotel Jakal Yogyakarta yang Didistribusikan kepada Mahasiswa
    Surplus Foods dari Artotel Jakal Yogyakarta yang Didistribusikan kepada Mahasiswa

    BBJ memiliki dua jenis program, yaitu Food Rescue dan Food Bank. Kedua program tersebut direalisasikan melalui kegiatan penyelamatan makanan dari mitra pada sektor perhotelan dan consumer non-cyclicals yang didistribusikan kepada masyarakat, baik secara langsung maupun melalui kegiatan Open Kitchen. Selama bulan Mei 2025, mitra-mitra BBJ telah aktif berkontribusi dalam program ini.

    • Holland Bakery memberikan total 11 kg surplus foods dari tanggal 2 dan 8 Mei 2025.
    • Mustika Yogyakarta Resort & Spa memberikan total 32,25 kg surplus foods pada 4 Mei 2025
    • Artotel memberikan total 26 kg surplus foods dari tanggal 4,11, dan 18 Mei 2025
    • Roti Flamboyan 47 memberikan total 6 kg surplus foods pada tanggal 9 Mei 2025
    • Loving Hut Express memberikan total 17 kg surplus foods dari tanggal 11, 12, dan 21 Mei 2025
    • Masyarakat umum, melalui acara pernikahannya, memberikan total 38 kg surplus foods pada tanggal 19 Mei 2025.  
    • Perusahaan frozen food Boyolali, melalui kegiatan Open Kitchen BBJ, berhasil menyalurkan sejumlah 26 kg surplus foods dari tanggal 3, 11, 17, 18, dan 19 Mei 2025

    Melalui kegiatan yang dilaksanakan, BBJ memberikan aksi nyata  dalam mengurangi limbah makanan dan membantu masyarakat yang membutuhan. Langkah kecil BBJ dalam membantu pengelolaan makanan secara bijak diharapkan dapat membantu memberikan dampak dan inspirasi bagi dunia.

    Penulis : Ginanita Zelda dan Annisa Aprilia Lestari