Author: Kamaluddin Arsyad Fadllillah

  • Sistem Oslo Solusi Cerdas Pengelolaan Sampah di Indonesia

    Sistem Oslo Solusi Cerdas Pengelolaan Sampah di Indonesia

    sumber : https://fusilli-project.eu
    sumber : https://fusilli-project.eu

    Permasalahan sampah yang ada di Indonesia bahkan dunia memang tidak ada habisnya, terkhususnya sampah makanan. Sampah makanan merupakan salah satu jenis sampah yang menyumbangkan 8-10% emisi gas rumah kaca (Mufrida, 2024). Di Indonesia saja, sampah makanan menjadi penyumbang terbesar komposisi sampah. Kondisi ini sesuai dengan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024 yang menunjukkan 39,2% (29,373 juta ton) dari total sampah berasal dari jenis sampah makanan.” Lalu untuk memperkuat bahwa 39,2% ini adalah komposisi terbesar, bisa dikomparasikan dengan persentase jenis sampah lain yang menempati posisi kedua setelah sampah makanan (SIPSN, 2024). Jika sampah-sampah ini tidak dikelola dengan baik, bisa dibayangkan, seberapa banyak sumber gas berbahaya yang ditimbulkan seperti Metana (CH4), karbon dioksida (CO2), dan Nitrogen Dioksida (NO2) berpotensi menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca (Garsoni, 2024). 

    Pada dasarnya, upaya pengelolaan sampah di Indonesia sudah diatur melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008. Berdasarkan peraturan tersebut dijelaskan ada dua pengelolaan antara lain pengurangan sampah dan penanganan sampah. Dalam upaya pengelolaan, pemerintah Indonesia telah mengembangkan beberapa TPS yang menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, dan recycle). Selain itu, teknologi sederhana seperti pengomposan juga banyak dilakukan. Namun, dengan teknologi yang sudah ada, Indonesia cukup tertinggal jauh dengan beberapa negara dunia (Chaerul et al, 2020).  Terlebih, terdapat fakta bahwa kesadaran masyarakat dalam memilah sampah rendah dan pengawasan dari pemerintah kurang. Hal tersebut berimplikasi pada pengelolaan sampah makanan di beberapa wilayah menjadi kurang efektif. Dibuktikan dengan fakta bahwa sepanjang bulan Oktober hingga Maret 2024, selama musim hujan di Indonesia, ditemukan sampah yang dibuang di pantai-pantai Kuta, Seminyak, Legian, dan Jimbaran di Bali setiap hari. Hal tersebut semakin lama dianggap biasa oleh masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke pantai Kuta

    Berbeda dengan Oslo, salah satu kota yang ada di Norwegia, ada cara ampuh dalam pengelolaan sampah khususnya di tahap pemilihan. Pemerintah Norwegia menggunakan cara efektif dalam usaha pemisahan plastik, yaitu membuat sebuah wadah plastik, lebih tepatnya tas kresek dengan warna yang berbeda untuk setiap jenis sampah. Hal tersebut mempermudah setiap orang yang ingin membuang sampah sesuai jenisnya berdasarkan perbedaan warna yang dibuat sehingga pemilahan sampah bisa terlaksana dengan efektif. Hal ini dilakukan pemerintah untuk memudahkan dalam pemilihan sampah. Selain itu, Pemerintah Norwegia juga memperhatikan kualitas kantong plastik, bahwa kantong plastik yang digunakan berasal dari bahan yang tidak mudah sobek dan mudah didaur ulang. Kemudian di tahap pengumpulan, sampah makanan dikumpulkan mingguan bersama jenis sampah lain. Pada tahap pengangkutan sampah, dapat dilakukan oleh pemerintah maupun individu. Pemerintah melakukan pengangkutan sampah dengan memilah sampah berdasarkan kode warna kantong plastik kemudian dikirim ke pusat pemilahan, sedangkan individu dapat langsung membawanya ke pusat daur ulang. Dengan menerapkan sistem ini, Oslo dapat meningkatkan daur ulang sampah makanan hingga 60% di tahun 2025 serta dapat mengurangi timbunan sampah sebesar 30% (Chaerul et al, 2020). 

    Dengan mengadopsi sistem pengelolaan sampah di Oslo, Indonesia dapat meningkatkan efisiensi daur ulang dan pemanfaatan limbah secara lebih berkelanjutan. Dukungan dari masyarakat sangat penting dalam upaya ini. Oleh karena itu, Mari bersama-sama mengurangi sampah makanan dengan lebih bijak dalam mengkonsumsi dan memanfaatkan kembali sisa makanan dengan cara yang lebih bijak!.

    Sumber: 

    Garsoni, S. (2024, September 9). Dampak Negatif Pengelolaan Sampah yang Tidak Tepat dan Solusinya. Kencana Online Digital. https://kencanaonline.id/dampak-negatif-pengelolaan-sampah-yang-tidak-tepat-dan-solusinya.html

    SIPSN – Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional. (n.d.-b). https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/public/data/komposisi

    Mufrida, I. E. (2024, October 5). Indonesia Penyumbang Sampah Sisa Makanan Terbesar di ASEAN. GoodStatshttps://goodstats.id/article/indonesia-penyumbang-sampah-sisa-makanan-terbesar-di-asean-hOnJP

    SIPSN – Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional. (n.d.-c). https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/

  • Holland Bakery, Artotel, dan Mustika Jogja, Bantu Selamatkan Makanan

    Holland Bakery, Artotel, dan Mustika Jogja, Bantu Selamatkan Makanan

    Makanan dari hotel berupa nasi dan lauk pauk dalam wadah ramah lingkungan, hasil food surplus yang didistribusikan Berbagi Bites Jogja (BBJ) untuk mengurangi food waste dan membantu masyarakat di Yogyakarta
    Makanan dari hotel berupa nasi dan lauk pauk dalam wadah ramah lingkungan, hasil food surplus yang didistribusikan Berbagi Bites Jogja (BBJ) untuk mengurangi food waste dan membantu masyarakat di Yogyakarta

    BBJ (Berbagi Bites Jogja) telah melaksanakan pendistribusi makanan dari mitra-mitranya, yaitu Holland Bakery, Artotel, dan Mustika Jogja dalam upaya untuk mengurangi pemborosan makanan (food waste) serta membantu mahasiswa UGM  dan masyarakat umum yang membutuhkan.

    Perwakilan hotel menyerahkan makanan surplus kepada volunteer Berbagi Bites Jogja untuk didistribusikan kepada masyarakat dan mahasiswa, mendukung pengurangan food waste
    Perwakilan hotel menyerahkan makanan surplus kepada volunteer Berbagi Bites Jogja untuk didistribusikan kepada masyarakat dan mahasiswa, mendukung pengurangan food waste

    Selama satu minggu terakhir, Holland Bakery telah memberikan food surplus berupa roti yang totalnya mencapai 13 kg. Pada tanggal 3 Januari 2025, BBJ berhasil mendistribusikan 6,26 kg roti kepada Rumah ZIS UGM untuk disalurkan kepada masyarakat umum maupun mahasiswa yang membutuhkan. Selain itu, pada tanggal 10 Januari 2025, BBJ juga menyerahkan food surplus dari Holland Bakery dengan berat 6.74 kg kepada 51 mahasiswa UGM selaku food heroes.

    Selain dari Holland Bakery, BBJ juga menerima food surplus dari Artotel yang menyumbangkan sebanyak 7,6 kg makanan. Makanan tersebut terdiri dari berbagai lauk pauk yang kemudian langsung disalurkan kepada food heroes untuk segera dikonsumsi, mengingat makanan tersebut sudah diproses oleh mitra yaitu Artotel. Dalam proses pengambilan makanan ini, BBJ menganjurkan food heroes untuk membawa wadah makan sendiri sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pengurangan sampah plastik/wadah sekali pakai.

    Volunteer BBJ menyerahkan makanan surplus kepada food heroes UGM untuk mendukung pengurangan food waste
    Volunteer BBJ menyerahkan makanan surplus kepada food heroes UGM untuk mendukung pengurangan food waste

    Sebagai tambahan, Mustika Jogja, salah satu mitra BBJ, juga turut berpartisipasi dalam program ini dengan menyumbangkan food surplus sebanyak 15,38 kg. Makanan tersebut kemudian didistribusikan oleh BBJ kepada 19 mahasiswa UGM yang berpartisipasi sebagai food heroes pada tanggal 12 Januari 2025. Kontribusi ini semakin memperkuat upaya BBJ dalam mengurangi food waste dan membantu mereka yang membutuhkan.

    Tujuan utama dari setiap kegiatan di atas adalah untuk mengurangi food waste dan membantu masyarakat yang membutuhkan makanan. Dengan mendistribusikan food surplus, BBJ serta mitra yang tergabung berharap dapat memberikan manfaat ganda: mengurangi dampak negatif dari pemborosan makanan dan membantu mereka yang mungkin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan. Melalui kerja sama dengan mitra-mitra seperti Holland Bakery Artotel dan Mustika Jogja, BBJ terus berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan sosial dan lingkungan.

    Volunteer BBJ menyerahkan makanan kepada driver Gojek untuk didistribusikan ke yayasan, mendukung pengurangan food waste
    Volunteer BBJ menyerahkan makanan kepada driver Gojek untuk didistribusikan ke yayasan, mendukung pengurangan food waste

    Kegiatan ini sejalan dengan visi BBJ untuk menciptakan masyarakat yang lebih peduli terhadap isu sosial dan lingkungan, serta mengedukasi publik tentang pentingnya pengelolaan makanan yang lebih baik. Dengan partisipasi aktif dari berbagai pihak, diharapkan program ini dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

  • Awal Menuju Masa Depan Tanpa Limbah Makanan

    Awal Menuju Masa Depan Tanpa Limbah Makanan

    Berbagi Bites Jogja: Langkah Awal Mengatasi Masalah Limbah Makanan di Yogyakarta

    Peluncuran BBJ diadakan di Podocarpus Cafe, Yogyakarta, dengan dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Acara ini bertujuan memperkenalkan misi BBJ dan membangun kolaborasi untuk menciptakan kesadaran luas akan pentingnya mengelola makanan secara bijak.

    Misi Mengurangi Limbah Makanan

    Pendiri BBJ, yaitu Ibu Ika menyampaikan bahwa komunitas ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap ironi di Yogyakarta, di mana kota ini dikenal sebagai destinasi kuliner, tapi masih banyak makanan yang terbuang percuma. “Kami ingin menjembatani kesenjangan antara pihak yang kelebihan makanan dengan masyarakat yang membutuhkan,” ujar Ibu Ika. Dalam acara tersebut, BBJ juga menyoroti dampak negatif limbah makanan terhadap lingkungan, terutama emisi gas rumah kaca dari sampah organik yang tidak terkelola. Selain itu, data menunjukkan bahwa penanganan limbah makanan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan dan keberlanjutan.

    Kolaborasi Strategis untuk Perubahan

    Acara peluncuran diisi dengan diskusi panel yang menghadirkan akademisi UGM. Diskusi ini menyoroti peran komunitas lokal dalam upaya penyelamatan makanan, tantangan logistik, serta pentingnya kolaborasi lintas sektor. “BBJ dapat menjadi contoh konkret bagaimana perubahan kecil di tingkat lokal mampu memberikan dampak besar,” ujar salah satu anggota BBJ.
    BBJ memperkenalkan dua inisiatif utama, yaitu Food Rescue dan Food Bank. Kedua program ini dirancang untuk menyelamatkan makanan berlebih dari restoran, hotel, dan mitra lainnya, kemudian mendistribusikannya kepada masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, melalui program ini, BBJ berupaya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mengurangi pemborosan makanan di tingkat rumah tangga.

    Dukungan Masyarakat dan Mitra

    BBJ mengajak masyarakat luas, mulai dari individu hingga pelaku industri makanan dan minuman, untuk turut berpartisipasi dalam gerakan ini. “Kerja sama dengan mitra, relawan, dan masyarakat sangat penting untuk memastikan keberhasilan program kami,” jelas salah satu anggota tim BBJ.

    Langkah Awal untuk Masa Depan Tanpa Limbah Makanan

    Acara peluncuran ditutup dengan makan siang bersama, yang mendukung prinsip BBJ: tidak ada makanan yang terbuang. Hidangan yang disajikan merupakan hasil kolaborasi dengan mitra lokal yang mendukung keberlanjutan.

    Berbagi Bites Jogja berharap langkah awal ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk terlibat dalam menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan. “Dengan komitmen dan kolaborasi, kami yakin bisa menciptakan perubahan nyata dalam mengurangi limbah makanan di Yogyakarta,” tutup pendiri BBJ.

    Sumber Data: SIPSN – Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional