Author: Sheva Subagja

  • Jejak Perilaku Konsumen dalam Limbah Pangan

    Jejak Perilaku Konsumen dalam Limbah Pangan

    Ilustrasi Orang Makan dalam Jumlah yang Besar. Sumber: inquirer.net
    Ilustrasi Orang Makan dalam Jumlah yang Besar. Sumber: inquirer.net

    Limbah pangan merupakan hal yang menjadi masalah di seluruh penjuru dunia. Di Indonesia sendiri, sektor rumah tangga menjadi penyumbang terbesar penghasil limbah pangan. Berdasarkan data SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional), sektor rumah tangga menyumbangkan 40% dari total sampah. Dengan angka tersebut, setiap orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 77 kg food waste per tahun, setara dengan lebih dari 20 juta ton secara nasional. Ironisnya, dengan banyaknya makanan yang terbuang, masih banyak penduduk Indonesia yang mengalami kelaparan dan gizi buruk. Artinya, persoalan limbah pangan tidak hanya soal teknis pengelolaan sampah, tetapi menyangkut pola konsumsi yang tidak berkelanjutan.

    Kebiasaan konsumen, seperti membeli makanan berlebihan, menyimpan makanan dengan cara yang salah, hingga membuang makanan karena tampilan yang tidak sempurna, menjadi faktor utama dalam akumulasi limbah pangan. Studi menunjukkan bahwa perilaku impulsif, minimnya perencanaan konsumsi, serta ketidakpahaman terhadap masa simpan makanan adalah penyebab signifikan limbah pangan dalam lingkup rumah tangga. Ini menandakan bahwa perilaku individu punya peran besar dalam masalah limbah pangan.

    Food Waste: Lebih dari Sekadar Masalah Lingkungan

    Selama ini, food waste kerap kali dipandang sebagai isu lingkungan atau teknis semata. Padahal, menurut pendekatan psikologi perilaku dan gaya hidup, masalah ini sangat berkaitan dengan pola pikir, norma sosial, serta kebiasaan harian. Banyak orang terjebak dalam budaya konsumsi berlebih, terpengaruh oleh iklan atau hanya sekadar penampilan makanan yang menggugah selera.

    Studi Kusumawardani, dkk. (2023) menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di suatu keluarga berbanding terbalik dengan jumlah limbah pangan yang dihasilkan. Artinya, kesadaran dan pemahaman sangat memengaruhi cara orang mengelola makanan. Oleh karena itu, penanganan limbah pangan tidak hanya cukup melalui kebijakan atau infrastruktur saja, tetapi juga perlu edukasi terhadap pencegahan perilaku konsumtif yang akan menghasilkan jumlah limbah pangan semakin banyak.

    Kebiasaan yang Mengikuti ke Setiap Piring Kita

    Konsumen sering kali membeli makanan dalam jumlah melebihi kebutuhan. Kecenderungan ini dalam psikologi disebut planning fallacy. Konsumen akan memasak atau membeli makanan dalam jumlah yang sengaja dilebihkan. Menurut Aktas, dkk. (2018), perilaku ini berkaitan dengan kurangnya perencanaan belanja dan manajemen stok rumah tangga. Contoh perilakunya seperti tidak membuat daftar belanja atau mengecek kulkas sebelum membeli.

    Di sisi lain, terdapat faktor budaya dan sosial yang turut memperkuat perilaku konsumsi berlebihan. Salah satu contohnya ialah menyajikan makanan dalam jumlah besar kerap diasosiasikan dengan keramahan atau status sosial. Hal ini kemudian membuat prinsip “lebih baik berlebih daripada kurang” menjadi semacam aturan tak tertulis.

    Ilustrasi Makanan Pernikahan. Sumber: Pixabay
    Ilustrasi Makanan Pernikahan. Sumber: Pixabay

    Dilema antara Diskon dan Kebutuhan

    Perilaku impulsif saat berbelanja menjadi salah satu penyumbang food waste yang signifikan dalam lingkup rumah tangga. Konsumen sering terpengaruh oleh promosi seperti diskon besar, bundling, atau tren semata. Pola ini umum dikenal sebagai fear of missing out (FOMO). Menurut Kusumawardani, dkk. (2023), perilaku impulsif adalah faktor eksternal yang memicu food waste, khususnya pada masyarakat yang mudah tergoda oleh strategi pemasaran yang agresif. Alhasil, banyak makanan dibeli tanpa benar-benar dibutuhkan dan berakhir menjadi limbah pangan.

    Makanan Layak Konsumsi yang Tak Selalu Cantik

    Di era visual seperti saat ini, makanan tidak hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari rupa. Banyak konsumen terpengaruh oleh halo effect, yaitu kecenderungan menilai kualitas suatu produk hanya dari penampilan luar saja, baik secara sadar maupun tidak. Makanan yang tampak layu, memar sedikit, atau bentuknya tidak ideal sering dianggap ‘tidak layak’. Padahal, makanan tersebut sebenarnya masih dapat dikonsumsi dengan aman.

    Dalam penelitian oleh Niha, dkk. (2022), persepsi negatif terhadap makanan yang tidak sempurna secara visual menjadi faktor yang mendorong perilaku membuang makanan, bahkan ketika tidak ada alasan logis yang mendasarinya. Makanan yang tidak sesuai standar estetika pribadi mudah sekali dianggap tidak layak dan akhirnya dibuang. Maka dari itu, untuk mengurangi dampak limbah pangan, penting untuk mengubah pola pikir ini dan membiasakan diri menerima makanan dalam bentuk alaminya. Makanan tidak harus terlihat bagus dan cantik asalkan tetap layak dikonsumsi dan bergizi.

    Saatnya Ubah Cara Pandang Kita!

    Dari kebiasaan ambil porsi berlebihan, lapar mata saat belanja, hingga menolak makanan hanya karena tampilannya tak sempurna, semua itu adalah cerminan bagaimana pola pikir dan gaya hidup kita membentuk limbah pangan. Tanpa disadari, pilihan-pilihan kecil yang tampak sepele justru berkontribusi besar pada kerusakan lingkungan dan pemborosan sumber daya.

    Volunteer Berbagi Bites Jogja dalam kegiatan food rescue
    Volunteer Berbagi Bites Jogja dalam kegiatan food rescue

    Kini saatnya kita berhenti melihat makanan hanya sebagai barang konsumsi, tetapi sebagai hasil jerih payah, energi, dan sumber kehidupan. Mengurangi food waste bukan sekadar tentang menyimpan makanan lebih rapi, melainkan juga tentang menjadi konsumen yang lebih sadar, bijak, dan bertanggung jawab. Karena perubahan besar tidak dimulai dari tempat sampah, tetapi dari cara kita memandang isi piring kita.

    Penulis: Sheva J. Subagja

    Referensi

    Aktas, E., Sahin, E., Topaloglu, Z., Oledinma, A., Huda, A. K. S., Irani, Z., Sharif, A. M., van’t Wout, T., & Kamrava, M. (2018). A consumer behavioural approach to food waste. Journal of Enterprise Information Management, 31(5), 658-673. https://doi.org/10.1108/JEIM-03-2018-0051

    Kusumawardani, D., Hidayati, N. A., Martina, A., Agusti, K. S., Rahmawati, Y., Amalia, Y. Y., & Ramdaniyah, N. F. (2023). Household food waste in Indonesia: Macro analysis. Polish Journal of Environmental Studies, 32(6), 5651-5658. https://doi.org/10.15244/pjoes/163157

    Niha, S. S., Amaral, M. A. L., & Tisu, R. (2022). Factors influencing behavior to reducing household food waste in Indonesia. KINERJA, 26(1), 125-136. https://doi.org/10.24002/kinerja.v26i1.5493

  • Bayang Bayang Ironi dalam World Hunger Day

    Bayang Bayang Ironi dalam World Hunger Day

    Ilustrasi orang membuang makanan. Sumber: Shutterstock
    Ilustrasi orang membuang makanan. Sumber: Shutterstock

    Miliaran Ton Makanan Terbuang Saat Jutaan Orang Kelaparan

    Setiap tanggal 28 Mei, dunia memperingati World Hunger Day atau Hari Kelaparan Dunia. Dilansir dari worldhungerday.org, hari ini merupakan kesempatan bagi seluruh masyarakat di berbagai belahan dunia untuk mengambil bagian dalam menuntaskan masalah kelaparan yang ada di dunia. Dikutip dari situs web yang sama, pada 2022, sekitar 343 juta lebih orang dari 74 negara di dunia mengalami kesulitan akses terhadap makanan. Lebih lanjut, menurut data BPS tahun 2024, provinsi dengan persentase tertinggi warga yang mengalami kelaparan adalah Provinsi Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

    Ironisnya, di saat yang sama, dunia juga membuang sekitar 1,05 miliar ton makanan di tahun 2022 berdasarkan data UN Environment Programme. Jumlah tersebut cukup untuk memberi makan seluruh populasi kelaparan di bumi. Mengutip dari sumber yang sama, Indonesia sendiri menghasilkan 20,93 juta ton sampah makanan, terbesar di Asia Tenggara. Bahkan menempati peringkat kedua teratas di dunia.

    Tak dapat dipungkiri bahwa fenomena ini sangatlah miris. Saat masih banyak orang yang berjuang keras hanya demi mendapatkan sepiring makanan, banyak pula yang tidak sadar membuang begitu banyak makanan yang seharusnya dapat menyelamatkan banyak nyawa.

    Makanan dari aksi  food rescue oleh Berbagi Bites Jogja
    Makanan dari aksi  food rescue oleh Berbagi Bites Jogja

    Bukan soal sumber daya yang kurang, tetapi soal akses yang terbatas.

    Berdasarkan informasi dari WFP USA, mengentaskan kelaparan bukanlah soal cadangan makanan yang tersedia. Setiap tahun, dunia dapat memproduksi cukup makanan untuk memberi makan seluruh orang di muka bumi. Kelaparan sendiri berakar dari sulitnya akses yang dapat terganggu oleh banyak hal, utamanya cuaca ekstrem, konflik, ketidaksetaraan gender, serta limbah makanan.

    Tapi, kok bisa, ya, limbah makanan menjadi salah satu penyebab kelaparan di muka bumi? Jawabannya, karena kurang efisiennya sistem distribusi serta perilaku konsumtif. Di negara maju, makanan sering terbuang karena standar estetika. Jadi, buah atau sayur yang tampak ‘jelek’ tidak laku dijual di pasar. Lalu, pendapatan warganya yang tinggi, menjadikan orang-orang acapkali membeli makanan lebih dari yang dapat mereka konsumsi. Di negara berkembang sendiri, masalah limbah makanan umumnya karena bahan makanan hilang saat proses panen dan distribusi karena infrastruktur yang kurang memadai.

    Hal-hal yang telah disebutkan di atas secara tidak langsung membuat harga pangan global naik karena suplai makanan seolah terbatas, menguras sumber daya alam (air dan tanah) yang semestinya dapat digunakan untuk produksi makanan berkualitas, serta menyumbang emisi gas rumah kaca yang mempercepat perubahan iklim—salah satu penyebab utama gagal panen dan krisis pangan di banyak wilayah di dunia.

    Aksi kecil pun sangat berarti

    Duh, seram juga, ya? Perilaku dan kebiasaan kecil kita bisa jadi memberikan dampak buruk yang sangat besar bagi banyak orang di dunia. Namun, jangan sedih, banyak yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak dari limbah makanan. Aksi ini dapat dimulai dengan membeli makanan sesuai kebutuhan, menyimpan bahan makanan dengan benar, dan mengolah ulang sisa makanan jika memungkinkan. Apabila teman-teman ingin berkontribusi lebih luas, teman-teman dapat mendonasikan makanan berlebih ke bank makanan dan mengedukasi teman atau keluarga terdekat tentang hal ini.

    Sebagai bagian dari aksi nyata mengurangi limbah makanan sekaligus membantu mengatasi kelaparan, Berbagi Bites Jogja hadir sebagai perantara antara surplus makanan dan masyarakat yang membutuhkan. Melalui program food rescue dan food bank, kami memastikan bahwa makanan yang berlebih, baik dari hotel, perusahaan, maupun masyarakat umum yang tersebar di Yogyakarta, bisa sampai ke tangan-tangan yang membutuhkan.

    Volunteers Berbagi Bites Jogja bersama food heroes dari Yayasan Hamba.
    Volunteers Berbagi Bites Jogja bersama food heroes dari Yayasan Hamba.

    Menciptakan dunia yang lebih baik

    Pada akhirnya, Hari Kelaparan Dunia bukanlah sekadar angka dan statistik. Di antara keberlimpahan dan kekurangan, kita diajarkan tentang empati, solidaritas, serta tanggung jawab sebagai manusia. Ketika sedikit saja makanan terbuang, bukan hanya bahan pangan yang hilang, tetapi juga peluang hidup banyak orang di sana. Jadi, sudah adilkah isi piring kita?

    Penulis: Sheva J. Subagja

    Referensi

    Badan Pusat Statistik. (n.d.). Prevalence of moderate or severe food insecurity in the population (based on the Food Insecurity Experience Scale – FIES). https://www.bps.go.id/en/statistics-table/2/MTQ3NCMy/prevalence-of-moderate-or-severe-food-insecurity-in-the-population–based-on-the-food-insecurity-experience-scale–fies-.html

    INFID. (2023, October 13). Indonesia penyumbang sampah makanan terbanyak se-ASEAN. https://infid.org/en/indonesia-penyumbang-sampah-makanan-terbanyak-se-asean/

    United Nations Environment Programme. (2024). Food Waste Index Report 2024. https://wedocs.unep.org/handle/20.500.11822/45230

    World Food Program USA. (n.d.). Drivers of hunger. https://www.wfpusa.org/drivers-of-hunger/

    World Hunger Day. (n.d.). World Hunger Day – May 28th. https://www.worldhungerday.org/