Blog

  • Mengenal Cara Pengelolaan Food Waste Di Korea Selatan

    Mengenal Cara Pengelolaan Food Waste Di Korea Selatan

    Korea Selatan, sebuah negara yang dikenal dengan industrialisasi pesat dan budaya kuliner yang kaya, telah berhasil meluncurkan sebuah revolusi lingkungan yang menempatkannya sebagai pemimpin global dalam pengelolaan limbah makanan. Data menunjukkan bahwa Korea Selatan mampu mendaur ulang antara 97% hingga 98% limbah makanannya. Pencapaian ini sangat kontras dengan situasi di negara-negara maju lainnya, seperti Amerika Serikat, di mana sekitar 60% dari limbah makanan berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Keberhasilan Korea Selatan bukanlah hasil dari satu kebijakan tunggal, melainkan sinergi antara regulasi pemerintah yang progresif, partisipasi publik yang masif, dan inovasi teknologi yang berkelanjutan. Transformasi ini mengubah limbah makanan dari sekadar masalah lingkungan menjadi sumber daya yang berharga.

    Dari Aturan Menjadi Budaya

    Kondisi pengelolaan limbah di Korea Selatan pada era 1980-an sangat berbeda dengan saat ini. Industrialisasi dan urbanisasi yang pesat memunculkan masalah sosial dan lingkungan yang signifikan, termasuk penumpukan sampah di TPA. Pada tahun 1996, tingkat daur ulang limbah makanan di negara itu hanya sekitar 2,6%. Menyadari urgensi masalah ini, pemerintah mulai mengambil langkah-langkah transformatif.

    Pada tahun 1995, Korea Selatan memperkenalkan kebijakan Volume-based Waste Fee (VBWF) atau sistem yang dikenal sebagai pay-as-you-throw (PAYT), yang mewajibkan warga untuk membeli kantong sampah resmi. Prinsip dasarnya adalah polluter pays principle (prinsip pencemar membayar), di mana biaya pengelolaan limbah ditanggung oleh penghasil sampah itu sendiri. Namun, kebijakan awal ini tidak sepenuhnya spesifik untuk limbah makanan, yang menyebabkan sekitar 30% limbah makanan masih tercampur dengan sampah umum.

    Perubahan signifikan terjadi pada tahun 2005 ketika pemerintah secara hukum melarang pembuangan limbah makanan langsung ke TPA. Larangan ini menjadi katalisator bagi inovasi dan memaksa semua pihak untuk mencari solusi pengolahan limbah yang lebih baik. Sebagai evolusi dari kebijakan sebelumnya, pada tahun 2013, sistem Weight-Based Food Waste Fee (WBFWF) mulai diterapkan secara nasional. Sistem ini lebih canggih dan mengenakan biaya berdasarkan berat limbah makanan yang dibuang. 

    Prinsip “Bayar Sesuai Volume/Berat” (PAYT/WBFWF)

    Sistem pay-as-you-throw (PAYT) adalah jantung dari keberhasilan Korea Selatan. Prinsip ini menciptakan insentif finansial yang kuat bagi individu dan bisnis untuk mengurangi limbah mereka. Warga dikenakan biaya bulanan yang dihitung berdasarkan jumlah sampah yang dibuang. Alternatifnya, mereka harus membeli kantong sampah resmi yang harganya bervariasi tergantung ukuran, seperti kantong 3 liter seharga 300 won atau 20 liter seharga sekitar US$1.5. Sistem ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan limbah tidak datang dari satu kebijakan tunggal, melainkan dari evolusi yang dinamis dan terencana. Transformasi ini didorong oleh tekanan sosial yang muncul akibat penumpukan sampah di TPA. Selain insentif finansial, penegakan hukum yang ketat menjadi pilar lain yang tidak kalah penting. Pelanggar yang mencampur limbah makanan dengan sampah biasa dapat dikenakan denda dengan besaran yang cukup signifikan untuk mendorong kepatuhan. Pemerintah juga memanfaatkan teknologi seperti kamera keamanan untuk memantau pembuangan sampah yang tidak sesuai aturan. Sistem pengawasan yang ketat dan sanksi yang tegas ini berperan penting dalam mengubah kebiasaan masyarakat, dari yang awalnya sulit beradaptasi menjadi rutinitas sehari-hari. 

    Pemilihan Sampah yang Terperinci

    Selain itu, pemilahan sampah yang terperinci menjadi fondasi dari sistem pengelolaan limbah di Korea Selatan. Sampah dibagi ke dalam lima kategori utama, masing-masing dengan tempat pembuangan yang berbeda. Warga harus memisahkan limbah makanan dari sampah umum, material daur ulang (seperti kertas, kaca, dan plastik), limbah besar, dan limbah medis. Mekanisme pembuangan limbah makanan disesuaikan dengan jenis tempat tinggal dan lokasi. Secara umum, ada tiga metode utama yang dapat digunakan:

    1. Kantong Sampah Resmi

    Warga membeli kantong khusus dan menempatkannya di luar rumah untuk kemudian dikumpulkan oleh dinas kota.  

    1. Stiker

    Biasanya digunakan oleh bisnis atau untuk wadah sampah yang lebih besar. Stiker khusus ini dibeli dan ditempelkan pada wadah sesuai dengan beratnya.  

    1. Mesin dengan Sensor

    Ini adalah metode yang paling canggih dan umum ditemukan di gedung-gedung tinggi dan kompleks apartemen. Mesin ini dilengkapi dengan sensor berat dan sistem radio-frequency identification (RFID). 

    Penerapan Teknologi yang Mendukung Inovasi Pengelolaan Food Waste

    Penerapan teknologi canggih seperti RFID adalah kunci yang menghubungkan kerangka konseptual pay-as-you-throw dengan implementasi praktis yang efisien. Mesin-mesin pengumpul limbah elektronik ini secara akurat menimbang sampah, mencatat data ke unit individu atau rumah tangga, dan mengirimkan tagihan secara otomatis di akhir bulan. Tanpa kemampuan untuk mengukur dan menagih biaya per individu, insentif finansial tidak akan bekerja secara efektif. Selain itu, truk-truk pengumpul juga dilengkapi dengan RFID untuk menimbang kontainer limbah besar dan memastikan akuntabilitas di setiap tahap. Sinergi antara kebijakan insentif dan teknologi pendukung inilah yang membuat sistem Korea Selatan dinilai begitu efektif. 

    Sistem pengelolaan limbah makanan di Korea Selatan tidak berakhir pada pengumpulan, tetapi meluas hingga pengolahan dan penciptaan nilai baru. Sisa-sisa makanan yang terkumpul tidak dibuang sia-sia, melainkan didaur ulang menjadi produk bernilai. Hal ini mengimplementasikan konsep ekonomi sirkular pada skala nasional, mengubah limbah dari masalah menjadi sumber daya berharga. Jalur pengolahan utama adalah konversi limbah makanan menjadi pakan ternak. Produk-produk daur ulang ini langsung kembali ke sektor pertanian dan peternakan, menciptakan siklus nutrisi yang efisien dan berkelanjutan. Sisa makanan yang berhasil didaur ulang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, seperti pakan ternak (49%), pupuk (25%), dan produksi biogas (14%). Selain itu, produksi biogas dari limbah organik tidak hanya mengatasi masalah sampah, tetapi juga menghasilkan sumber energi terbarukan yang dapat digunakan untuk menyalurkan listrik ke rumah-rumah warga. Dengan ini, Korea Selatan berhasil menciptakan nilai ekonomi dan lingkungan dari limbah sisa makanan. 

    Namun, inovasi pengelolaan food waste tersebut sempat dikritik karena mungkin tidak relevan untuk semua negara. Pakar dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Rosa Rolle, menyatakan keraguan apakah sistem ini dapat berhasil di negara-negara dengan pendapatan per kapita yang jauh lebih rendah. Biaya implementasi infrastruktur canggih seperti mesin RFID dan pusat pengolahan biogas membutuhkan investasi yang signifikan, yang mungkin tidak terjangkau oleh negara berkembang. Kritik ini valid karena keberhasilan Korea Selatan bergantung pada kombinasi faktor yang unik, yakni kemauan politik yang kuat, kemajuan ekonomi, dan partisipasi publik yang tinggi. Oleh karena itu, negara lain perlu menyesuaikan kebijakan berdasarkan konteks lokal, perilaku masyarakat, dan kondisi ekonomi mereka sebelum mencontoh pengelolaan food waste di Korea Selatan. Selain itu, komitmen pemerintah Korea Selatan dalam mengeluarkan kebijakan seperti WBFWF, melarang TPA limbah makanan, dan memberlakukan denda menjadi fondasi yang kuat. 

    Inovasi dari Korea Selatan ini dapat memberikan inspirasi penting bagi Indonesia yang masih menghadapi tantangan seperti kesadaran masyarakat yang rendah dan masalah kelembagaan dalam pengelolaan sampah. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat adalah kunci tercapainya transformasi besar (mengubah limbah menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan). 

    Penulis: Nasya Ladita Agustine

    Referensi

    detikcom. (2025, 21 Agustus). Resep Sukses Korsel Mendaur Ulang 97% Limbah Makanan. Diakses pada 21 Agustus 2025, dari https://news.detik.com/bbc-world/d-7581960/resep-sukses-korsel-mendaur-ulang-97-limbah-makanan 

    Envac Group. (n.d.). Tackling Food Waste: South Korea’s Success Story. Diakses pada 21 Agustus 2025, dari https://www.envacgroup.com/insights/tackling-food-waste-south-koreas-success-story/ 

    Kim, J. J. (2024, 26 Agustus). Sukses Kelola Limbah Makanan: Apa yang Bisa Indonesia Pelajari dari Korea Selatan?. Kompasiana. Diakses pada 21 Agustus 2025, dari https://www.kompasiana.com/amdg77/66bac9ac34777c0a3c09e974/sukses-mengelola-limbah-makanan-apa-yang-bisa-indonesia-pelajari-dari-korea-selatan 

    Kompas (Lestari KG Media). (2024, 26 Agustus). Korea Selatan Mampu Daur Ulang 98 Persen “Food Waste”, Ini Rahasianya. Diakses pada 21 Agustus 2025, dari https://lestari.kompas.com/read/2024/08/26/150000986/korea-selatan-mampu-daur-ulang-98-persen-food-waste-ini-rahasianya?page=all 

    Lee, E., Shurson, G., Oh, S.H., and Jang, J.C. (2024). The Management of Food Waste Recycling for a Sustainable Future: A Case Study on South Korea. Sustainability, 16(2), 854. https://doi.org/10.3390/su16020854 

    Pers Pangannews. (2024, 22 Oktober). Menggali Keberhasilan Korea Selatan dalam Pengelolaan Limbah Makanan. Diakses pada 21 Agustus 2025, dari https://pangannews.id/berita/1729559777/menggali-keberhasilan-korea-selatan-dalam-pengelolaan-limbah-makanan 

    Wulandari, N. dan Deniar, S.M. (2023). Upaya Negara Korea Selatan dalam Menangani Food Waste (Sampah Makanan). JGG-Jurnal Green Growth dan Manajemen Lingkungan, 12(2), 112-124. https://doi.org/10.21009/jgg.122.02  

  • Kenalan dengan Mindful Eating: Kelola Emosi, Food Waste Teratasi!

    Kenalan dengan Mindful Eating: Kelola Emosi, Food Waste Teratasi!

    Makanan yang Tersisa di Piring. sumber: econusa.id
    Makanan yang Tersisa di Piring. sumber: econusa.id

    Tak lagi jadi pemandangan langka, makanan yang tersisa di piring kini menjadi fenomena yang dianggap sepele oleh sebagian orang. Terkadang, porsi makanan yang mereka sisakan juga tak sedikit. Bagi pelaku pengelola makanan, keberadaan sisa makanan dapat diolah menjadi produk menguntungkan, salah satunya yaitu kompos. Namun, apalah daya, sebagian pelaku pengelola makanan mungkin merasa bahwa pengelolaan sisa makanan memakan biaya dan waktu berlebih sehingga akhirnya berujung pada timbulnya food waste.

    Mengapa hal ini dapat terjadi? Berbagai penyebab fenomena menyisakan makanan antara lain, mulai dari porsi makanan yang terlalu banyak, makan terburu-buru, cita rasa yang tak sesuai harapan, rendahnya keinginan untuk mengonsumsi kembali, dan kualitas makanan yang menurun. Tak hanya itu, status ekonomi juga menjadi pertanda akan fenomena ini. Menurut Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, makin tinggi nilai PDRB per kapita suatu wilayah alias makin kaya penduduk daerah tersebut, volume sampah makanannya juga kian tinggi.

    Mengatasi Mindless Eating dengan Mindful Eating

    Menerapkan Kebiasaan Baik Melalui Mindful Eating. Sumber: balance-life.gr 
    Menerapkan Kebiasaan Baik Melalui Mindful Eating. Sumber: balance-life.gr 

    Atas penyebab yang terjadi dari fenomena menyisakan makanan, ternyata kondisi ini dapat disebut sebagai mindless eating, yaitu perilaku makan yang tanpa memberikan perhatian penuh pada proses makan itu sendiri. Perilaku ini dapat berujung pada kebiasaan buruk. Alih-alih menghabiskan makanan, seseorang yang sering melakukan mindless eating akan terkesan tidak peduli dengan porsi dan rasa makanan yang dikonsumsi, akibatnya makanan berubah menjadi food waste dikarenakan porsi makanan yang tak sesuai kebutuhan. Dampak terhadap kesehatan juga menyertai perilaku ini, seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dll. Jika mindless eating menjadi cara untuk koping dengan stres, metode kopingnya harus diganti dengan cara yang lebih baik yaitu mindful eating.

    Menurut Maharani dan Khomsan (2024), mindful eating merupakan kondisi pada individu yang mengalami kesadaran penuh pada saat mengonsumsi makanan, kesadaran untuk tidak menghakimi makanan (nonjudgmental awareness), dan merasakan dengan penuh sensasi fisik, emosional, serta lingkungan yang berhubungan dengan makanan. Dengan mindful eating, kita diajak untuk lebih menikmati setiap gigitan, mengamati rasa, tekstur, dan aroma makanan, serta mengenali sinyal tubuh kita tentang rasa lapar dan kenyang. Langkah sederhana untuk menerapkan mindful eating dapat dilakukan dengan 3R.

    1. Recognize (Kenali)

    Langkah ini dapat dilakukan untuk mengenali sinyal alami tubuh dengan memastikan apakah tubuh benar-benar lapar secara fisik (perut keroncongan, lemas) atau hanya ‘lapar mata’? Selain itu, memberi waktu untuk mengenali makanan dari segi warna, fisik, bau dan berusaha mengelola emosi sehingga kita bisa lebih menghargai makanan yang akan kita konsumsi.

    1. Relate (Hubungkan)

    Membangun hubungan yang sehat dengan makanan yang kita konsumsi, dalam artian bersikap fokus dan sadar saat mengonsumsi makanan. Proses ini akan lebih baik jika kita menghindari diri dari distraksi seperti ponsel dan televisi sehingga kita bisa merasakan setiap gigitan, tekstur, dan rasa makanan dengan seksama. 

    1. Respond (Tanggapi)

    Setiap individu dapat menanggapi secara bijak setiap proses dari makan itu sendiri. Secara tidak langsung kita juga akan lebih bersyukur atas makanan yang telah dinikmati. Alhasil, pengelolaan emosi kita terhadap keberadaan dan konsumsi makanan akan tumbuh lebih optimal.

    Mindful Eating Sebagai Solusi Cerdas Atasi Food Waste

    Berbagi Bites Jogja Ajak Mahasiswa untuk Mengurangi Food Waste
    Berbagi Bites Jogja Ajak Mahasiswa untuk Mengurangi Food Waste

    Keberadaan fenomena mindless eating dapat menjadi bumerang yang memperburuk keadaan food waste di Indonesia. Namun, dengan menerapkan kesadaran penuh atas konsumsi makanan secara tidak langsung dapat menumbuhkan tanggung jawab atas pengelolaan makanan tersebut. Perilaku ini juga dapat meningkatkan kesadaran diri bahwa food waste dapat muncul dari kebiasaan makan kita sehari-hari. Sejuta dampak baik dapat tercipta bagi penekanan food waste apabila setiap individu berusaha untuk membiasakan perilaku mindful eating, salah satunya dengan mengurangi keinginan makan berlebih.

    Mindful eating mendorong individu untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan dalam jangka panjang dan secara sadar memilih atau mengambil makanan sesuai kebutuhan. Perilaku ini juga menjadi langkah nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan menghargai kerja keras para produsen pangan, sehingga dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk mengonsumsi makanan dengan bijak.

    Penulis: Annisa Aprilia Lestari  

    Referensi

    Ciputra Hospital. (2025). Manfaat Mindful Eating dan Cara Melakukannya. Diakses pada 07 Agustus 2025 dari https://ciputrahospital.com/mindful-eating/

    Ghifari, F. Y. (2023). Mindless Eating-Makan Tanpa Berpikir? Diakses pada 07 Agustus dari https://www.sirka.health/blog/2023/05/11/mindless-eating-makan-tanpa-berpikir/ 

    Maharani, T., & Khomsan, A. (2024). Hubungan Mindful Eating dan Tingkat Stres dengan Status Gizi pada Siswa SMA Global Persada Mandiri School. J. Gizi Dietetik, 3(3), 199-208. https://doi.org/10.25182/jigd.2024.3.3.199-208

    Rosalina, M. P., Wisanggeni, S. P., dan Albertus, K. (2022). Kebiasaan Buruk Sisakan Makanan. Diakses pada 07 Agustus 2025 dari https://www.kompas.id/artikel/kebiasaan-buruk-sisakan-makanan 

    Sigar, B. R., Tulis, D. H., Wijaya, Y. N., Pangauw, K. A. I., & Ramadhani , N. F. (2025). Analisis Hubungan Indeks Pembangunan Manusia, Jumlah Penduduk, dan Perekonomian Terhadap Timbunan Sampah di Sulawesi Utara. CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan, 5(3), 877-886. https://doi.org/10.51878/cendekia.v5i3.6174 

  • Mengubah Limbah Makanan Menjadi Solusi Tenaga Terbarukan

    Mengubah Limbah Makanan Menjadi Solusi Tenaga Terbarukan

    Limbah makanan. Sumber: Stateline.org
    Limbah makanan. Sumber: Stateline.org

    Indonesia menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan limbah makanan. Sebagai produsen limbah makanan terbesar di dunia, Indonesia membuang sekitar 23 – 48 juta ton makanan setiap tahunnya. Hal ini tidak hanya menyangkut masalah pemborosan, tetapi juga memberikan dampak serius bagi lingkungan. Limbah makanan yang membusuk menghasilkan gas metana (CH4), sebuah gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan global jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida (CO2). Namun, di balik masalah ini, limbah makanan dapat dimanfaatkan menjadi salah satu energi terbarukan melalui teknologi yang disebut pencernaan anaerobik. Pencernaan anaerobik adalah sebuah terobosan yang menggunakan mikroorganisme untuk mengurai bahan organik dalam kondisi bebas oksigen, menghasilkan biogas dengan kandungan metana yang tinggi. Biogas ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik, pemanas, maupun bahan bakar transportasi.

    Menurut Paritosh dkk. (2017), dibandingkan dengan limbah pertanian dan kotoran hewan, limbah makanan memiliki kandungan energi yang lebih tinggi, menjadikannya ideal untuk produksi biogas. Komposisi limbah makanan yang kaya akan karbohidrat, protein, dan lemak mempercepat proses fermentasi mikroba serta menghasilkan volume metana yang signifikan. Selain potensi teknis yang tinggi, kita juga perlu menggeser paradigma dalam melihat limbah makanan. Caterina Trevisan, dkk. (2025) secara provokatif mempertanyakan, “Is wasted food just waste?”. Menurut mereka, kita perlu beralih dari melihat limbah makanan sekadar sebagai sisa atau kegagalan sistem, menjadi potensi nilai yang bisa diubah. Mereka menyebutnya pendekatan “value transformation lens”, yaitu cara pandang yang melihat makanan terbuang sebagai titik awal untuk inovasi, bukan akhir dari proses distribusi. Artinya, alih-alih hanya fokus pada menghindari atau mengurangi limbah, kita juga bisa berpikir: bagaimana sisa makanan dapat berperan dalam sistem pangan baru? Limbah makanan berpotensi menjadi bahan baku energi, bahan kosmetik, kompos, makanan ternak, bahkan menciptakan bisnis sosial baru. Transformasi ini menuntut pergeseran dalam operasi logistik dan manajemen rantai pasok, dengan menempatkan nilai sosial dan ekologi sejajar dengan nilai ekonomi.

    Menggabungkan dua pendekatan ini—teknologi dan paradigma—membuka kemungkinan baru yang revolusioner. Bayangkan sebuah kota yang bukan hanya memiliki instalasi biodigester canggih, tetapi juga masyarakat yang sejak awal tidak menganggap sisa makanan sebagai “buangan”, melainkan sebagai sumber daya. Di kota seperti itu, restoran tidak sekadar membuang makanan lebih sedikit, tetapi juga membangun sistem pasokan ulang, ketika sisa makanan dialirkan ke instalasi energi atau bank makanan komunitas. Untuk mencapai visi ini, tentu dibutuhkan dukungan kebijakan, insentif ekonomi, dan yang paling penting: perubahan budaya konsumsi. Teknologi pengolah limbah hanya akan efektif jika diiringi dengan kesadaran sosial dan struktur sistem yang memungkinkan transformasi nilai itu terjadi. Namun, pemanfaatan limbah makanan untuk energi masih menghadapi sejumlah hambatan. Di antaranya adalah keterbatasan infrastruktur dan teknologi, kurangnya kesadaran masyarakat, serta belum optimalnya dukungan kebijakan publik. Padahal, pendekatan ini memiliki banyak manfaat, seperti mengurangi emisi gas rumah kaca, memperpanjang usia TPA, menyediakan sumber energi bersih, serta menciptakan lapangan kerja baru di sektor hijau.

    Oleh karena itu, solusi ini perlu didorong melalui kebijakan lintas sektor, edukasi publik, dan integrasi dalam program lingkungan hidup di tingkat lokal maupun nasional. Pengembangan teknologi pencernaan anaerobik yang mudah diakses dan diterapkan secara komunitas dapat menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran bahwa limbah makanan bukan sekadar sampah, melainkan sumber daya berharga. Dengan kombinasi antara inovasi teknologi, edukasi masyarakat, dan dukungan kebijakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin dalam transisi energi hijau berbasis limbah organik. Jika kita mampu mengubah cara pandang terhadap sisa makanan, dari beban menjadi berkah, maka masa depan energi terbarukan akan semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Penulis: Ginanita Zelda 

    Referensi 

    Paritosh, K., Kushwaha, S. K., Yadav, M., Pareek, N., Chawade, A., & Vivekanand, V. (2017). Food Waste to Energy: An Overview of Sustainable Approaches for Food Waste Management and Nutrient Recycling. BioMed Research International, 2017, 1–19. https://doi.org/10.1155/2017/2370927

    Trevisan, C., Formentini, M., & Pullman, M. (2025). Innovators and transformers: Is wasted food just waste? Reconceptualising food loss and waste in operations and supply chain management research and practice. International Journal of Physical Distribution & Logistics Management, 55(4), 361–375. https://doi.org/10.1108/IJPDLM-12-2023-0471

  • Jejak Perilaku Konsumen dalam Limbah Pangan

    Jejak Perilaku Konsumen dalam Limbah Pangan

    Ilustrasi Orang Makan dalam Jumlah yang Besar. Sumber: inquirer.net
    Ilustrasi Orang Makan dalam Jumlah yang Besar. Sumber: inquirer.net

    Limbah pangan merupakan hal yang menjadi masalah di seluruh penjuru dunia. Di Indonesia sendiri, sektor rumah tangga menjadi penyumbang terbesar penghasil limbah pangan. Berdasarkan data SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional), sektor rumah tangga menyumbangkan 40% dari total sampah. Dengan angka tersebut, setiap orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 77 kg food waste per tahun, setara dengan lebih dari 20 juta ton secara nasional. Ironisnya, dengan banyaknya makanan yang terbuang, masih banyak penduduk Indonesia yang mengalami kelaparan dan gizi buruk. Artinya, persoalan limbah pangan tidak hanya soal teknis pengelolaan sampah, tetapi menyangkut pola konsumsi yang tidak berkelanjutan.

    Kebiasaan konsumen, seperti membeli makanan berlebihan, menyimpan makanan dengan cara yang salah, hingga membuang makanan karena tampilan yang tidak sempurna, menjadi faktor utama dalam akumulasi limbah pangan. Studi menunjukkan bahwa perilaku impulsif, minimnya perencanaan konsumsi, serta ketidakpahaman terhadap masa simpan makanan adalah penyebab signifikan limbah pangan dalam lingkup rumah tangga. Ini menandakan bahwa perilaku individu punya peran besar dalam masalah limbah pangan.

    Food Waste: Lebih dari Sekadar Masalah Lingkungan

    Selama ini, food waste kerap kali dipandang sebagai isu lingkungan atau teknis semata. Padahal, menurut pendekatan psikologi perilaku dan gaya hidup, masalah ini sangat berkaitan dengan pola pikir, norma sosial, serta kebiasaan harian. Banyak orang terjebak dalam budaya konsumsi berlebih, terpengaruh oleh iklan atau hanya sekadar penampilan makanan yang menggugah selera.

    Studi Kusumawardani, dkk. (2023) menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di suatu keluarga berbanding terbalik dengan jumlah limbah pangan yang dihasilkan. Artinya, kesadaran dan pemahaman sangat memengaruhi cara orang mengelola makanan. Oleh karena itu, penanganan limbah pangan tidak hanya cukup melalui kebijakan atau infrastruktur saja, tetapi juga perlu edukasi terhadap pencegahan perilaku konsumtif yang akan menghasilkan jumlah limbah pangan semakin banyak.

    Kebiasaan yang Mengikuti ke Setiap Piring Kita

    Konsumen sering kali membeli makanan dalam jumlah melebihi kebutuhan. Kecenderungan ini dalam psikologi disebut planning fallacy. Konsumen akan memasak atau membeli makanan dalam jumlah yang sengaja dilebihkan. Menurut Aktas, dkk. (2018), perilaku ini berkaitan dengan kurangnya perencanaan belanja dan manajemen stok rumah tangga. Contoh perilakunya seperti tidak membuat daftar belanja atau mengecek kulkas sebelum membeli.

    Di sisi lain, terdapat faktor budaya dan sosial yang turut memperkuat perilaku konsumsi berlebihan. Salah satu contohnya ialah menyajikan makanan dalam jumlah besar kerap diasosiasikan dengan keramahan atau status sosial. Hal ini kemudian membuat prinsip “lebih baik berlebih daripada kurang” menjadi semacam aturan tak tertulis.

    Ilustrasi Makanan Pernikahan. Sumber: Pixabay
    Ilustrasi Makanan Pernikahan. Sumber: Pixabay

    Dilema antara Diskon dan Kebutuhan

    Perilaku impulsif saat berbelanja menjadi salah satu penyumbang food waste yang signifikan dalam lingkup rumah tangga. Konsumen sering terpengaruh oleh promosi seperti diskon besar, bundling, atau tren semata. Pola ini umum dikenal sebagai fear of missing out (FOMO). Menurut Kusumawardani, dkk. (2023), perilaku impulsif adalah faktor eksternal yang memicu food waste, khususnya pada masyarakat yang mudah tergoda oleh strategi pemasaran yang agresif. Alhasil, banyak makanan dibeli tanpa benar-benar dibutuhkan dan berakhir menjadi limbah pangan.

    Makanan Layak Konsumsi yang Tak Selalu Cantik

    Di era visual seperti saat ini, makanan tidak hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari rupa. Banyak konsumen terpengaruh oleh halo effect, yaitu kecenderungan menilai kualitas suatu produk hanya dari penampilan luar saja, baik secara sadar maupun tidak. Makanan yang tampak layu, memar sedikit, atau bentuknya tidak ideal sering dianggap ‘tidak layak’. Padahal, makanan tersebut sebenarnya masih dapat dikonsumsi dengan aman.

    Dalam penelitian oleh Niha, dkk. (2022), persepsi negatif terhadap makanan yang tidak sempurna secara visual menjadi faktor yang mendorong perilaku membuang makanan, bahkan ketika tidak ada alasan logis yang mendasarinya. Makanan yang tidak sesuai standar estetika pribadi mudah sekali dianggap tidak layak dan akhirnya dibuang. Maka dari itu, untuk mengurangi dampak limbah pangan, penting untuk mengubah pola pikir ini dan membiasakan diri menerima makanan dalam bentuk alaminya. Makanan tidak harus terlihat bagus dan cantik asalkan tetap layak dikonsumsi dan bergizi.

    Saatnya Ubah Cara Pandang Kita!

    Dari kebiasaan ambil porsi berlebihan, lapar mata saat belanja, hingga menolak makanan hanya karena tampilannya tak sempurna, semua itu adalah cerminan bagaimana pola pikir dan gaya hidup kita membentuk limbah pangan. Tanpa disadari, pilihan-pilihan kecil yang tampak sepele justru berkontribusi besar pada kerusakan lingkungan dan pemborosan sumber daya.

    Volunteer Berbagi Bites Jogja dalam kegiatan food rescue
    Volunteer Berbagi Bites Jogja dalam kegiatan food rescue

    Kini saatnya kita berhenti melihat makanan hanya sebagai barang konsumsi, tetapi sebagai hasil jerih payah, energi, dan sumber kehidupan. Mengurangi food waste bukan sekadar tentang menyimpan makanan lebih rapi, melainkan juga tentang menjadi konsumen yang lebih sadar, bijak, dan bertanggung jawab. Karena perubahan besar tidak dimulai dari tempat sampah, tetapi dari cara kita memandang isi piring kita.

    Penulis: Sheva J. Subagja

    Referensi

    Aktas, E., Sahin, E., Topaloglu, Z., Oledinma, A., Huda, A. K. S., Irani, Z., Sharif, A. M., van’t Wout, T., & Kamrava, M. (2018). A consumer behavioural approach to food waste. Journal of Enterprise Information Management, 31(5), 658-673. https://doi.org/10.1108/JEIM-03-2018-0051

    Kusumawardani, D., Hidayati, N. A., Martina, A., Agusti, K. S., Rahmawati, Y., Amalia, Y. Y., & Ramdaniyah, N. F. (2023). Household food waste in Indonesia: Macro analysis. Polish Journal of Environmental Studies, 32(6), 5651-5658. https://doi.org/10.15244/pjoes/163157

    Niha, S. S., Amaral, M. A. L., & Tisu, R. (2022). Factors influencing behavior to reducing household food waste in Indonesia. KINERJA, 26(1), 125-136. https://doi.org/10.24002/kinerja.v26i1.5493

  • Ratusan Porsi Bergizi Disalurkan, Ratusan Senyuman Terbentang

    Ratusan Porsi Bergizi Disalurkan, Ratusan Senyuman Terbentang

    Ilustrasi makanan berlebih yang terbuang
    Ilustrasi makanan berlebih yang terbuang

    Tahukah kalian bahwa setiap harinya, ratusan porsi makanan berlebih terbuang sia-sia padahal bisa menyelamatkan saudara kita yang kekurangan makanan? Ironisnya, Indonesia adalah salah satu negara penyumbang food waste terbesar di dunia. Namun, sebenarnya food waste ini bisa dicegah, bahkan diubah menjadi berkah, loh. 

    Dua Program Utama BBJ

    BBJ hadir untuk mengubah pola tersebut. Melalui dua program utamanya, Food Rescue dan Food Bank, BBJ terus bergerak menyelamatkan food surplus yang masih layak konsumsi dari sektor perhotelan dan industri food and beverage. Kedua program ini dirancang sebagai bentuk intervensi terhadap waste chain pangan, mengubah makanan berlebih yang berpotensi menjadi limbah supaya dimanfaatkan sebagai makanan bergizi bagi masyarakat sekitar. Sepanjang akhir bulan Mei hingga bulan Juni, kontribusi kolektif dari berbagai mitra BBJ adalah menyelamatkan total 105 kg food surplus yang didistribusikan kepada food heroes, baik secara langsung dengan pendistribusian food surplus yang biasa kita lakukan di Podocarpus dan open kitchen langsung ke tempat food heroes, atau secara tidak langsung dengan mengirim food surplus melalui perantara jasa pengantar makanan. 

    Contoh dokumentasi kegiatan open kitchen dengan food surplus dari perusahaan frozen food Boyolali
    Contoh dokumentasi kegiatan open kitchen dengan food surplus dari perusahaan frozen food Boyolali

    Berikut rincian kontribusi dari berbagai mitra BBJ, antara lain Holland Bakery, perusahaan frozen food Boyolali, Artotel, Roti Flamboyan 47, Mustika Yogyakarta Resort & Spa, Loving Hut Express, dan masyarakat umum. Food surplus tersebut didistribusikan kepada food heroes mahasiswa dan beberapa yayasan, di antaranya Yayasan Hamba, Yayasan Madania, Yayasan Sayap Ibu, Panti Sosial Tresna Werdha dan RSPA Buah Hati 2.

    Mitra Tanggal DistribusiTotal (kg) Food Heroes
    Holland Bakery23 dan 30 Mei 2025 serta 5,13, dan 20 Juni 202526 kgMahasiswa dan RSPA Buah Hati 2
    Perusahaan frozen food Boyolali (via open kitchen) 24 dan 31 Mei 2025 serta1 dan 14 Juni 202526 kgYayasan Madania, Yayasan Hamba, dan Yayasan Sayap Ibu
    Artotel 25 Mei 2025 serta1, 8, 15, dan 22 Juni 202526 kgMahasiswa
    Roti Flamboyan 4730 Mei 20256 kgPanti Sosial Tresna Werdha
    Luving Hut Express8 Juni 20251 kgMahasiswa
    Mustika Yogyakarta Resort and Spa14 Juni 202514 kgYayasan Madania
    Masyarakat umum15 Juni 20253 kgYayasan Sayap Ibu

    Setiap kilogram makanan yang diselamatkan BBJ bukan sekadar angka dalam tabel spreadsheet, melainkan harapan nyata yang menyimpan senyuman tulus dari para food heroes. Ini adalah bukti nyata bahwa food is not waste, it’s blessing”. BBJ menyadari bahwa gerakan ini masih jauh dari kata selesai. Namun, pencapaian tiap bulannya membuktikan bahwa kolaborasi pengelolaan pangan yang bijak antara BBJ dengan para mitra mampu memberikan dampak nyata, seperti berkurangnya potensi limbah organik, peningkatan akses pangan bagi masyarakat yang membutuhkan, dan minimalisasi krisis pangan. 

    Sosialisasi Mengenai Gizi Bersama FK-KMK UGM Sekaligus Pengenalan BBJ dalam Kegiatan Open Kitchen

    Dokumentasi volunteer BBJ bersama teman-teman Yayasan Madania
    Dokumentasi volunteer BBJ bersama teman-teman Yayasan Madania

    Selain mendistribusikan food surplus, BBJ juga secara aktif mengadakan kegiatan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu food waste. Melalui edukasi ini, BBJ berharap semakin banyak individu dan pelaku usaha yang memahami pentingnya pengelolaan makanan yang bijak dan bergabung dalam gerakan bersama melawan food waste. Salah satunya yaitu kegiatan sosialisasi sekaligus open kitchen yang dilaksanakan di Yayasan Madania, Bantul, Yogyakarta pada hari Minggu, 1 Juni 2025. Sosialisasi ini berupa pengenalan BBJ yang dibawakan oleh Kak Hikmah Rania Rahman selaku Operasional Manager BBJ dan sosialisasi mengenai gizi yang dibawakan oleh Ibu Marina Hardiyanti, S. Gz., M. Sc. selaku Dosen Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM. 

    Dalam sosialisasi yang dibawakan, BBJ memperkenalkan diri sebagai komunitas yang hadir untuk melawan isu food waste di Indonesia. Dengan berbagi informasi dan cerita inspiratif, BBJ mengajak teman-teman untuk tidak lagi menganggap food surplus sebagai sisa, melainkan sebagai potensi untuk berbagi dan menyelamatkan. Teman-teman Yayasan Madania juga diberikan edukasi mengenai pentingnya berbagi makanan untuk memenuhi kandungan gizi harian per orang untuk mencegah malnutrisi sebab menurut Global Hunger Index (2023), sekitar 733.000.000 orang di dunia mengalami malnutrisi dan kerawanan pangan atau sekitar 9.1% dari populasi dunia. Dalam sosialisasi ini, dijelaskan pula mengenai aspek gizi pada food surplus dan jenis-jenis food surplus bergizi yang dapat dibagikan untuk menyelamatkan manusia dan lingkungan. 

    Sosialisasi pengenalan BBJ oleh Kak Hikmah Rania Rahman selaku Operasional Manager BBJ
    Sosialisasi pengenalan BBJ oleh Kak Hikmah Rania Rahman selaku Operasional Manager BBJ

    Kegiatan sosialisasi dilanjutkan dengan open kitchen sebagai bentuk kontribusi nyata untuk memenuhi kandungan gizi seimbang melalui distribusi food surplus yang diolah terlebih dahulu oleh volunteer BBJ bersama teman-teman Yayasan Madania. Dalam kegiatan ini, BBJ mengolah food surplus dari perusahaan frozen food Boyolali berupa patty ayam dan nugget menjadi beberapa menu masakan. Patty ayam dan nugget merupakan salah satu jenis food surplus bergizi yang termasuk ke dalam sumber protein. 

    Canda tawa hangat teman-teman Yayasan Madania mengiringi aksi memasak bersama kali ini. Setiap langkah kecil dalam kegiatan ini bukan sekadar memasak dan berbagi makanan bergizi, tetapi juga membangun jembatan kepedulian terhadap lingkungan dan sosial. Kegiatan open kitchen memberikan manfaat besar bagi lingkungan sekitar, terutama dalam rangka mencegah terciptanya food waste dengan mengolah food surplus yang masih layak konsumsi daripada terbuang sia-sia. 

    Penulis : Nasyawana Ladita Agustine

    Referensi

    von Grebmer, K., Bernstein, J., Wiemers, M., Reiner, L., Bachmeier, M., Hanano, A., Ní Chéilleachair, R., Foley, C., Sheehan, T., Gitter, S., Larocque, G., & Fritschel, H. (2023). 2023 Global Hunger Index: The Power of Youth in Shaping Food Systems. Welthungerhilfe and Concern Worldwide. https://www.globalhungerindex.org 

  • Bayang Bayang Ironi dalam World Hunger Day

    Bayang Bayang Ironi dalam World Hunger Day

    Ilustrasi orang membuang makanan. Sumber: Shutterstock
    Ilustrasi orang membuang makanan. Sumber: Shutterstock

    Miliaran Ton Makanan Terbuang Saat Jutaan Orang Kelaparan

    Setiap tanggal 28 Mei, dunia memperingati World Hunger Day atau Hari Kelaparan Dunia. Dilansir dari worldhungerday.org, hari ini merupakan kesempatan bagi seluruh masyarakat di berbagai belahan dunia untuk mengambil bagian dalam menuntaskan masalah kelaparan yang ada di dunia. Dikutip dari situs web yang sama, pada 2022, sekitar 343 juta lebih orang dari 74 negara di dunia mengalami kesulitan akses terhadap makanan. Lebih lanjut, menurut data BPS tahun 2024, provinsi dengan persentase tertinggi warga yang mengalami kelaparan adalah Provinsi Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

    Ironisnya, di saat yang sama, dunia juga membuang sekitar 1,05 miliar ton makanan di tahun 2022 berdasarkan data UN Environment Programme. Jumlah tersebut cukup untuk memberi makan seluruh populasi kelaparan di bumi. Mengutip dari sumber yang sama, Indonesia sendiri menghasilkan 20,93 juta ton sampah makanan, terbesar di Asia Tenggara. Bahkan menempati peringkat kedua teratas di dunia.

    Tak dapat dipungkiri bahwa fenomena ini sangatlah miris. Saat masih banyak orang yang berjuang keras hanya demi mendapatkan sepiring makanan, banyak pula yang tidak sadar membuang begitu banyak makanan yang seharusnya dapat menyelamatkan banyak nyawa.

    Makanan dari aksi  food rescue oleh Berbagi Bites Jogja
    Makanan dari aksi  food rescue oleh Berbagi Bites Jogja

    Bukan soal sumber daya yang kurang, tetapi soal akses yang terbatas.

    Berdasarkan informasi dari WFP USA, mengentaskan kelaparan bukanlah soal cadangan makanan yang tersedia. Setiap tahun, dunia dapat memproduksi cukup makanan untuk memberi makan seluruh orang di muka bumi. Kelaparan sendiri berakar dari sulitnya akses yang dapat terganggu oleh banyak hal, utamanya cuaca ekstrem, konflik, ketidaksetaraan gender, serta limbah makanan.

    Tapi, kok bisa, ya, limbah makanan menjadi salah satu penyebab kelaparan di muka bumi? Jawabannya, karena kurang efisiennya sistem distribusi serta perilaku konsumtif. Di negara maju, makanan sering terbuang karena standar estetika. Jadi, buah atau sayur yang tampak ‘jelek’ tidak laku dijual di pasar. Lalu, pendapatan warganya yang tinggi, menjadikan orang-orang acapkali membeli makanan lebih dari yang dapat mereka konsumsi. Di negara berkembang sendiri, masalah limbah makanan umumnya karena bahan makanan hilang saat proses panen dan distribusi karena infrastruktur yang kurang memadai.

    Hal-hal yang telah disebutkan di atas secara tidak langsung membuat harga pangan global naik karena suplai makanan seolah terbatas, menguras sumber daya alam (air dan tanah) yang semestinya dapat digunakan untuk produksi makanan berkualitas, serta menyumbang emisi gas rumah kaca yang mempercepat perubahan iklim—salah satu penyebab utama gagal panen dan krisis pangan di banyak wilayah di dunia.

    Aksi kecil pun sangat berarti

    Duh, seram juga, ya? Perilaku dan kebiasaan kecil kita bisa jadi memberikan dampak buruk yang sangat besar bagi banyak orang di dunia. Namun, jangan sedih, banyak yang dapat kita lakukan untuk mengurangi dampak dari limbah makanan. Aksi ini dapat dimulai dengan membeli makanan sesuai kebutuhan, menyimpan bahan makanan dengan benar, dan mengolah ulang sisa makanan jika memungkinkan. Apabila teman-teman ingin berkontribusi lebih luas, teman-teman dapat mendonasikan makanan berlebih ke bank makanan dan mengedukasi teman atau keluarga terdekat tentang hal ini.

    Sebagai bagian dari aksi nyata mengurangi limbah makanan sekaligus membantu mengatasi kelaparan, Berbagi Bites Jogja hadir sebagai perantara antara surplus makanan dan masyarakat yang membutuhkan. Melalui program food rescue dan food bank, kami memastikan bahwa makanan yang berlebih, baik dari hotel, perusahaan, maupun masyarakat umum yang tersebar di Yogyakarta, bisa sampai ke tangan-tangan yang membutuhkan.

    Volunteers Berbagi Bites Jogja bersama food heroes dari Yayasan Hamba.
    Volunteers Berbagi Bites Jogja bersama food heroes dari Yayasan Hamba.

    Menciptakan dunia yang lebih baik

    Pada akhirnya, Hari Kelaparan Dunia bukanlah sekadar angka dan statistik. Di antara keberlimpahan dan kekurangan, kita diajarkan tentang empati, solidaritas, serta tanggung jawab sebagai manusia. Ketika sedikit saja makanan terbuang, bukan hanya bahan pangan yang hilang, tetapi juga peluang hidup banyak orang di sana. Jadi, sudah adilkah isi piring kita?

    Penulis: Sheva J. Subagja

    Referensi

    Badan Pusat Statistik. (n.d.). Prevalence of moderate or severe food insecurity in the population (based on the Food Insecurity Experience Scale – FIES). https://www.bps.go.id/en/statistics-table/2/MTQ3NCMy/prevalence-of-moderate-or-severe-food-insecurity-in-the-population–based-on-the-food-insecurity-experience-scale–fies-.html

    INFID. (2023, October 13). Indonesia penyumbang sampah makanan terbanyak se-ASEAN. https://infid.org/en/indonesia-penyumbang-sampah-makanan-terbanyak-se-asean/

    United Nations Environment Programme. (2024). Food Waste Index Report 2024. https://wedocs.unep.org/handle/20.500.11822/45230

    World Food Program USA. (n.d.). Drivers of hunger. https://www.wfpusa.org/drivers-of-hunger/

    World Hunger Day. (n.d.). World Hunger Day – May 28th. https://www.worldhungerday.org/

  • Langkah Kecil Menjadi Harapan, Kolaborasi BBJ dengan Food Bank Lumbung Mataraman untuk Yogyakarta

    Langkah Kecil Menjadi Harapan, Kolaborasi BBJ dengan Food Bank Lumbung Mataraman untuk Yogyakarta

    BBJ menandatangani nota kerja sama Program Food Bank Lumbung Mataraman
    BBJ menandatangani nota kerja sama Program Food Bank Lumbung Mataraman

    Pada Rabu, 21 Mei 2025, BBJ (Berbagi Bites Jogja) resmi menjadi mitra program Food Bank Pemerintah Kota Yogyakarta dengan menandatangani nota kesepakatan pada acara “Launching Food Bank dan Peresmian Sekretariat Bersama”. BBJ juga menerima surplus foods dari Hotel Tara sebagai bentuk komitmen hotel dalam mendukung program Food Bank Lumbung Mataraman. Aksi ini sekaligus menjadi simbolisasi realisasi program Food Bank Lumbung Mataraman dalam upaya mengurangi limbah produksi makanan yang berlebihan. Adapun sasaran penerima manfaat dari program Food Bank Lumbung Mataraman Pemerintah Kota Yogyakarta adalah warga lanjut usia (lansia) prasejahtera, keluarga prasejahtera, dan masyarakat kota Yogyakarta yang membutuhkan.

    BBJ menerima surplus makanan pertama dari Hotel Tara Yogyakarta sebagai bentuk simbolis atas dukungan kerja sama antara hotel, perguruan tinggi, dan Pemerintah Kota Yogyakarta
    BBJ menerima surplus makanan pertama dari Hotel Tara Yogyakarta sebagai bentuk simbolis atas dukungan kerja sama antara hotel, perguruan tinggi, dan Pemerintah Kota Yogyakarta

    Selama bulan Mei, Berbagi Bites Jogja telah melaksanakan pendistribusian surplus foods dari para mitra, yaitu Holland Bakery, Mustika Yogyakarta Resort & Spa, Artotel Jakal, Roti Flamboyan 47, perusahaan frozen food Boyolali, dan Loving Hut Express. Selain itu, BBJ berhasil mendistribusikan surplus foods yang diperoleh dari acara pernikahan masyarakat umum. Surplus foods tersebut didistribusikan kepada mahasiswa dan beberapa yayasan, di antaranya Yayasan Hamba, Yayasan Madania, Rumah Yoel, dan Yayasan Sayap Ibu.

    Surplus Foods  dari Artotel Jakal Yogyakarta yang Didistribusikan kepada Mahasiswa
    Surplus Foods dari Artotel Jakal Yogyakarta yang Didistribusikan kepada Mahasiswa

    BBJ memiliki dua jenis program, yaitu Food Rescue dan Food Bank. Kedua program tersebut direalisasikan melalui kegiatan penyelamatan makanan dari mitra pada sektor perhotelan dan consumer non-cyclicals yang didistribusikan kepada masyarakat, baik secara langsung maupun melalui kegiatan Open Kitchen. Selama bulan Mei 2025, mitra-mitra BBJ telah aktif berkontribusi dalam program ini.

    • Holland Bakery memberikan total 11 kg surplus foods dari tanggal 2 dan 8 Mei 2025.
    • Mustika Yogyakarta Resort & Spa memberikan total 32,25 kg surplus foods pada 4 Mei 2025
    • Artotel memberikan total 26 kg surplus foods dari tanggal 4,11, dan 18 Mei 2025
    • Roti Flamboyan 47 memberikan total 6 kg surplus foods pada tanggal 9 Mei 2025
    • Loving Hut Express memberikan total 17 kg surplus foods dari tanggal 11, 12, dan 21 Mei 2025
    • Masyarakat umum, melalui acara pernikahannya, memberikan total 38 kg surplus foods pada tanggal 19 Mei 2025.  
    • Perusahaan frozen food Boyolali, melalui kegiatan Open Kitchen BBJ, berhasil menyalurkan sejumlah 26 kg surplus foods dari tanggal 3, 11, 17, 18, dan 19 Mei 2025

    Melalui kegiatan yang dilaksanakan, BBJ memberikan aksi nyata  dalam mengurangi limbah makanan dan membantu masyarakat yang membutuhan. Langkah kecil BBJ dalam membantu pengelolaan makanan secara bijak diharapkan dapat membantu memberikan dampak dan inspirasi bagi dunia.

    Penulis : Ginanita Zelda dan Annisa Aprilia Lestari

  • Sistem Oslo Solusi Cerdas Pengelolaan Sampah di Indonesia

    Sistem Oslo Solusi Cerdas Pengelolaan Sampah di Indonesia

    sumber : https://fusilli-project.eu
    sumber : https://fusilli-project.eu

    Permasalahan sampah yang ada di Indonesia bahkan dunia memang tidak ada habisnya, terkhususnya sampah makanan. Sampah makanan merupakan salah satu jenis sampah yang menyumbangkan 8-10% emisi gas rumah kaca (Mufrida, 2024). Di Indonesia saja, sampah makanan menjadi penyumbang terbesar komposisi sampah. Kondisi ini sesuai dengan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2024 yang menunjukkan 39,2% (29,373 juta ton) dari total sampah berasal dari jenis sampah makanan.” Lalu untuk memperkuat bahwa 39,2% ini adalah komposisi terbesar, bisa dikomparasikan dengan persentase jenis sampah lain yang menempati posisi kedua setelah sampah makanan (SIPSN, 2024). Jika sampah-sampah ini tidak dikelola dengan baik, bisa dibayangkan, seberapa banyak sumber gas berbahaya yang ditimbulkan seperti Metana (CH4), karbon dioksida (CO2), dan Nitrogen Dioksida (NO2) berpotensi menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca (Garsoni, 2024). 

    Pada dasarnya, upaya pengelolaan sampah di Indonesia sudah diatur melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008. Berdasarkan peraturan tersebut dijelaskan ada dua pengelolaan antara lain pengurangan sampah dan penanganan sampah. Dalam upaya pengelolaan, pemerintah Indonesia telah mengembangkan beberapa TPS yang menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, dan recycle). Selain itu, teknologi sederhana seperti pengomposan juga banyak dilakukan. Namun, dengan teknologi yang sudah ada, Indonesia cukup tertinggal jauh dengan beberapa negara dunia (Chaerul et al, 2020).  Terlebih, terdapat fakta bahwa kesadaran masyarakat dalam memilah sampah rendah dan pengawasan dari pemerintah kurang. Hal tersebut berimplikasi pada pengelolaan sampah makanan di beberapa wilayah menjadi kurang efektif. Dibuktikan dengan fakta bahwa sepanjang bulan Oktober hingga Maret 2024, selama musim hujan di Indonesia, ditemukan sampah yang dibuang di pantai-pantai Kuta, Seminyak, Legian, dan Jimbaran di Bali setiap hari. Hal tersebut semakin lama dianggap biasa oleh masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke pantai Kuta

    Berbeda dengan Oslo, salah satu kota yang ada di Norwegia, ada cara ampuh dalam pengelolaan sampah khususnya di tahap pemilihan. Pemerintah Norwegia menggunakan cara efektif dalam usaha pemisahan plastik, yaitu membuat sebuah wadah plastik, lebih tepatnya tas kresek dengan warna yang berbeda untuk setiap jenis sampah. Hal tersebut mempermudah setiap orang yang ingin membuang sampah sesuai jenisnya berdasarkan perbedaan warna yang dibuat sehingga pemilahan sampah bisa terlaksana dengan efektif. Hal ini dilakukan pemerintah untuk memudahkan dalam pemilihan sampah. Selain itu, Pemerintah Norwegia juga memperhatikan kualitas kantong plastik, bahwa kantong plastik yang digunakan berasal dari bahan yang tidak mudah sobek dan mudah didaur ulang. Kemudian di tahap pengumpulan, sampah makanan dikumpulkan mingguan bersama jenis sampah lain. Pada tahap pengangkutan sampah, dapat dilakukan oleh pemerintah maupun individu. Pemerintah melakukan pengangkutan sampah dengan memilah sampah berdasarkan kode warna kantong plastik kemudian dikirim ke pusat pemilahan, sedangkan individu dapat langsung membawanya ke pusat daur ulang. Dengan menerapkan sistem ini, Oslo dapat meningkatkan daur ulang sampah makanan hingga 60% di tahun 2025 serta dapat mengurangi timbunan sampah sebesar 30% (Chaerul et al, 2020). 

    Dengan mengadopsi sistem pengelolaan sampah di Oslo, Indonesia dapat meningkatkan efisiensi daur ulang dan pemanfaatan limbah secara lebih berkelanjutan. Dukungan dari masyarakat sangat penting dalam upaya ini. Oleh karena itu, Mari bersama-sama mengurangi sampah makanan dengan lebih bijak dalam mengkonsumsi dan memanfaatkan kembali sisa makanan dengan cara yang lebih bijak!.

    Sumber: 

    Garsoni, S. (2024, September 9). Dampak Negatif Pengelolaan Sampah yang Tidak Tepat dan Solusinya. Kencana Online Digital. https://kencanaonline.id/dampak-negatif-pengelolaan-sampah-yang-tidak-tepat-dan-solusinya.html

    SIPSN – Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional. (n.d.-b). https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/public/data/komposisi

    Mufrida, I. E. (2024, October 5). Indonesia Penyumbang Sampah Sisa Makanan Terbesar di ASEAN. GoodStatshttps://goodstats.id/article/indonesia-penyumbang-sampah-sisa-makanan-terbesar-di-asean-hOnJP

    SIPSN – Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional. (n.d.-c). https://sipsn.menlhk.go.id/sipsn/

  • Bukan Sekadar Memasak: Lawan Food Waste Bersama BRSPA Melalui Open Kitchen

    Bukan Sekadar Memasak: Lawan Food Waste Bersama BRSPA Melalui Open Kitchen

    Bentuk Simbolis Berupa Serah Terima Makanan dalam Pelaksanaan Open Kitchen di BRSPA, Gunung Kidul, Yogyakarta
    Bentuk Simbolis Berupa Serah Terima Makanan dalam Pelaksanaan Open Kitchen di BRSPA, Gunung Kidul, Yogyakarta

    Kilas balik aksi Berbagi Bites Jogja (BBJ) dalam kegiatan Open Kitchen di Balai Rehabilitasi Sosial dan Pengasuhan Anak (BRSPA), Gunung Kidul, Yogyakarta, pada Minggu, 19 Januari 2025. Dalam kegiatan ini, BBJ mengolah food surplus dari perusahaan frozen food Boyolali berupa daging ayam sejumlah 1,8 kg. Tawa lepas terekam oleh anak-anak dan para remaja di BRSPA melalui aksi memasak bersama teman-teman volunteers BBJ. Selain kegiatan Open Kitchen, terdapat juga sosialisasi yang dibawakan oleh Ibu Ika Kurniati selaku founder BBJ mengenai pentingnya meminimalisasi sisa makanan atau food waste.

    Mengulik Arti Penting dari Kegiatan Open Kitchen

    Dalam sosialisasi yang dibawakan, teman-teman BRSPA diperkenalkan dengan Open Kitchen, yaitu kegiatan memasak bersama dengan memanfaatkan food surplus dari pendonor. Kreativitas dan kebahagiaan terukir dalam kegiatan kali ini. Lalu, mengapa harus menggunakan food surplus? Sesuai dengan misi utama BBJ, menjembatani antara pendonor dan kontributor untuk menciptakan dampak positif dan berkelanjutan dalam bidang lingkungan dan kemanusiaan. Kontributor yang dimaksud adalah food heroes atau penyelamat makanan dan siapa pun dapat berperan sebagai food heroes

    Pelaksanaan Kegiatan Open Kitchen Bersama Teman-Teman di BRSPA
    Pelaksanaan Kegiatan Open Kitchen Bersama Teman-Teman di BRSPA

    Menciptakan Lingkungan yang Berkelanjutan dengan Menekan Jumlah Food Waste

    Keberadaan food waste menjadi ‘ancaman besar’ yang tak bisa diabaikan. Menurut laporan indeks dari United Nations Environment Programme, pada tahun 2024 Indonesia menghasilkan food waste mencapai 14,73 juta ton per tahun. Angka ini menjadi potret ancaman nyata dan tidak ada alasan bagi kita semua untuk abai terhadap kondisi ini. Kelaparan, kerusakan lingkungan, bencana alam, bahkan kematian dapat ‘menghantui’ kehidupan masyarakat apabila tidak segera diatasi.

    Penyaluran dan pengolahan food surplus menjadi salah satu langkah dalam menekan jumlah food waste. Kontribusi yang dilakukan oleh teman-teman BRSPA dan BBJ dalam open kitchen dapat memberikan dampak yang sangat besar bagi keberlangsungan lingkungan dan sosial. 

    Pengolahan Food Surplus dari Perusahaan Frozen Food Boyolali
    Pengolahan Food Surplus dari Perusahaan Frozen Food Boyolali

    Perlunya Kesadaran Diri dalam Mencegah Keberadaan Food Waste

    “Habiskan Makananmu!”, ujar Ibu Ika dalam kegiatan sosialisasi tak hanya sekadar menghabiskan makanan, tetapi juga memahami makna penting bahwa seiring waktu berjalan, makanan yang tersisa di piring dapat menumpuk dan mencemari lingkungan. Selain menghabiskan makanan, teman-teman dapat menerapkan beberapa aksi, seperti memilih makanan sesuai kebutuhan, membeli makanan secukupnya, menyimpan makanan dengan baik dan benar, mendonasikan makanan berlebih kepada yang membutuhkan, dan mengubah limbah makanan menjadi kompos. Mungkin solusi ini terkesan sepele, tetapi jika seluruh masyarakat menerapkannya, perlahan-lahan permasalahan terkait food waste dapat kita atasi bersama.

    Kegiatan BBJ seperti Open Kitchen membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan sesama bisa dimulai dari dapur. Dengan kolaborasi, edukasi, dan aksi nyata, kita semua dapat menjadi food heroes yang tidak hanya menyelamatkan makanan, tetapi juga masa depan.

    Penulis: Annisa Aprilia Lestari

    Referensi:

    United Nations Environment Programme. (2024). Food Waste Index Report 2024. Diakses pada 14 Juni 2025 dari https://www.unep.org/resources/publication/food-waste-index-report-2024 

  • Holland Bakery, Artotel, dan Mustika Jogja, Bantu Selamatkan Makanan

    Holland Bakery, Artotel, dan Mustika Jogja, Bantu Selamatkan Makanan

    Makanan dari hotel berupa nasi dan lauk pauk dalam wadah ramah lingkungan, hasil food surplus yang didistribusikan Berbagi Bites Jogja (BBJ) untuk mengurangi food waste dan membantu masyarakat di Yogyakarta
    Makanan dari hotel berupa nasi dan lauk pauk dalam wadah ramah lingkungan, hasil food surplus yang didistribusikan Berbagi Bites Jogja (BBJ) untuk mengurangi food waste dan membantu masyarakat di Yogyakarta

    BBJ (Berbagi Bites Jogja) telah melaksanakan pendistribusi makanan dari mitra-mitranya, yaitu Holland Bakery, Artotel, dan Mustika Jogja dalam upaya untuk mengurangi pemborosan makanan (food waste) serta membantu mahasiswa UGM  dan masyarakat umum yang membutuhkan.

    Perwakilan hotel menyerahkan makanan surplus kepada volunteer Berbagi Bites Jogja untuk didistribusikan kepada masyarakat dan mahasiswa, mendukung pengurangan food waste
    Perwakilan hotel menyerahkan makanan surplus kepada volunteer Berbagi Bites Jogja untuk didistribusikan kepada masyarakat dan mahasiswa, mendukung pengurangan food waste

    Selama satu minggu terakhir, Holland Bakery telah memberikan food surplus berupa roti yang totalnya mencapai 13 kg. Pada tanggal 3 Januari 2025, BBJ berhasil mendistribusikan 6,26 kg roti kepada Rumah ZIS UGM untuk disalurkan kepada masyarakat umum maupun mahasiswa yang membutuhkan. Selain itu, pada tanggal 10 Januari 2025, BBJ juga menyerahkan food surplus dari Holland Bakery dengan berat 6.74 kg kepada 51 mahasiswa UGM selaku food heroes.

    Selain dari Holland Bakery, BBJ juga menerima food surplus dari Artotel yang menyumbangkan sebanyak 7,6 kg makanan. Makanan tersebut terdiri dari berbagai lauk pauk yang kemudian langsung disalurkan kepada food heroes untuk segera dikonsumsi, mengingat makanan tersebut sudah diproses oleh mitra yaitu Artotel. Dalam proses pengambilan makanan ini, BBJ menganjurkan food heroes untuk membawa wadah makan sendiri sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pengurangan sampah plastik/wadah sekali pakai.

    Volunteer BBJ menyerahkan makanan surplus kepada food heroes UGM untuk mendukung pengurangan food waste
    Volunteer BBJ menyerahkan makanan surplus kepada food heroes UGM untuk mendukung pengurangan food waste

    Sebagai tambahan, Mustika Jogja, salah satu mitra BBJ, juga turut berpartisipasi dalam program ini dengan menyumbangkan food surplus sebanyak 15,38 kg. Makanan tersebut kemudian didistribusikan oleh BBJ kepada 19 mahasiswa UGM yang berpartisipasi sebagai food heroes pada tanggal 12 Januari 2025. Kontribusi ini semakin memperkuat upaya BBJ dalam mengurangi food waste dan membantu mereka yang membutuhkan.

    Tujuan utama dari setiap kegiatan di atas adalah untuk mengurangi food waste dan membantu masyarakat yang membutuhkan makanan. Dengan mendistribusikan food surplus, BBJ serta mitra yang tergabung berharap dapat memberikan manfaat ganda: mengurangi dampak negatif dari pemborosan makanan dan membantu mereka yang mungkin kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan. Melalui kerja sama dengan mitra-mitra seperti Holland Bakery Artotel dan Mustika Jogja, BBJ terus berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan sosial dan lingkungan.

    Volunteer BBJ menyerahkan makanan kepada driver Gojek untuk didistribusikan ke yayasan, mendukung pengurangan food waste
    Volunteer BBJ menyerahkan makanan kepada driver Gojek untuk didistribusikan ke yayasan, mendukung pengurangan food waste

    Kegiatan ini sejalan dengan visi BBJ untuk menciptakan masyarakat yang lebih peduli terhadap isu sosial dan lingkungan, serta mengedukasi publik tentang pentingnya pengelolaan makanan yang lebih baik. Dengan partisipasi aktif dari berbagai pihak, diharapkan program ini dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.